Digitalisasi untuk Pemberdayaan dan Sosialisasi Program

TANGGAL :
Minggu, 11 Agustus 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
trubus.id

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Rosa Niken Widiastuti, Dirjen IKP Kemkominfo

TONE :
Pro

TOPIC :
Smart ASN

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 15.000.000

AD :
Rp. 5.000.000

LINK ORIGINAL :

Dalam rangka membumikan program digitalisasi di kalangan masyarakat, Kementerian Komunikasi dan Informatika membuat komunikasi dan komunitas siber. Ada komunitas yang terbagi atas masyarakat umum, artis, pelaku ekonomi, dan lainya.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kominfo Rosarita Niken Widiastuti di hadapan aparatur sipil negara (ASN) dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema "Evaluasi Reformasi Birokrasi" di Ruang Auditorium Gedung Kementerian PANRB, Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Sehingga ke depan, digitalisasi internet tidak hanya untuk chatting dan media sosial semata. Tapi juga untuk pemberdayaan dan sosialisasi program. Pada level tertentu, Kemkominfo telah melakukan yang berstandar internasional,” ujar Niken.

Dilansir dari berita Kementerian, Sekjen, Kemkominfo juga membuat digital talent untuk mengakselerasi perkembangan digital yang begitu cepat. Hal itu dilakukan karena fakta di lapangan masih adanya gap antara lulusan industri. Di perguruan tinggi, perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang lama.

Demi menjawab kebutuhan itu, Sekjen Niken menjelaskan, Kementerian Kominfo bekerjasama dengan perusahaan internasional melakukan ToT (training of trainer) untuk para dosen di perguruan tinggi negeri.

“Kita bekerja sama dengan 30 perguruan tinggi negeri dan 28 swasta. Berstandar internsional. Beasiswa sudah berjalan selama tiga bulan. 25 ribu orang yang kemudian lolos masuk ke tahap berikutnhya. Isi programnya di antaranya big data, cyber security, dan lainya,” ulas Niken.

Apakah ada aparat sipil negara (ASN) yang bisa mengikuti pelatihan ini? Sekjen Kemkominfo menjawab bisa. Pelatihan ini terbuka untuk umum. Ada beberapa level, seperti siswa SMK, guru-guru, online, dan untuk masyarakat yang sudah ekspert. Digital stkill Kemkominfo menyiapkan beasiswa di luar negeri, baik S2 maupun S3.

“Untuk tahun ini, khusus beasiswa ini dikirim ke China dan India. Kita kirim ASN kesana. Kami juga menyelenggarakan leadership akademi. Ini merupakan akademik untuk semuanya. Kami melakukan kompetensi masing-masing ASN untuk menciptakan aplikasi-aplikasi yang memudahkan pegawai ekosistem untuk pelayanan prima,” papar Niken.

Contohnya, Sekjen mengungkapkan, ada seorang staf yang 4 tahun bekerja bisa menciptakan e-klinik. Dari masuk pendaftaran dan memberikan obat bisa dilakukan di satu tempat. Dengan e-klinik orang tidak perlu antri. Tinggal buka aplikasi dan sampaikan keluhannya. Sehingga, orang tidak perlu antri lagi. Dia cukup datang saat antriannya sudah terdeteksi.

“Selain itu, ada juga eselon 4 yang menciptkan aplikasi kenaikan pangkat dan pensiun. Eselon 4 ini menciptakan tanda tangan digital. Dengan tanda tangan digital, sekali klik bisa langsung tanda tangan ratusan dokumen. Tanda tangan ini juga dihubungkan dengan OJK. Ini juga tanda tangan yang terverifikasi. Inilah digital talent yang dilakukan oleh karyawan kominfo,” ulas Niken.

Selain itu, Sekjen kembali menjelaskan, juga membuat aplikasi stunting. Untuk mengetes anak terkena gizi buruk atau tidak. Banyak aplikasi yang diciptakan oleh ASN itu sendiri. ASN berlomba dalam menciptakan aplikasi. Tahun depan, Kemkominfo akan membuka 50.000 talent schoolarship.

“Ada alokasi untuk ASN di dalam digitalisasi ini. ASN yang level mana. Pelatihan apa yang diperlukan untuk ASN di kementerian atau daerah,” pungkas Niken.

Hadir juga sebagai narasumber dalam FMB’9 kali ini antara lain Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho, Deputi Sumber Daya Manusia Aparatur Kementerian PANRB Setiawan Wangsaatmaja, dan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Hadiyanto.