Pengoptimalan Ekonomi Digital akan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Domestik

TANGGAL :
Kamis, 15 Agustus 2019

JAM NAIK BERITA :
07:33:02

MEDIA :
Investor Daily Indonesia

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
SDM Unggul

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 103.320.000

AD :
Rp. 34.440.000

FILE ORIGINAL :


Jakarta – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan, dengan adanya pemanfaatan ekonomi digital maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sampai 2%. Saat ini, baseline pertumbuhan ekonomi domestik di angka 5%.
Selama ini orang-orang selalu melihat perkembangan teknologi industri 4.0 mengganggu jenis pekerjaan yang telah ada. “Dengan adanya industri 4.0 ada potensi pertumbuhan ekonomi 1 sampai 2% per tahun di atas baseline. Jadi, kalau baselinenya 5% kita bisa memanfaatkan industri 4.0 maka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6 atau 7%,” ucap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional(PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam acara Forum Merdeka Barat, di Kantor Bappenas, Jakarta, Rabu (14/8).

Bambang mengatakan, dengan perkembangan teknologi menyebabkan sejumlah orang kehilangan pekerjaan. Tetapi di saat yang sama juga akan tercipta jenis lapangan kerja baru. Menurutnya adanya digitalisasi, otomasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Inteligence) tidak akan menyebabkan adanya pengangguran.

“Kurang lebih ada penciptaan 10 juta lapangan kerja menjelang 2030. Kita jangan terlalu terpaku digitalisasi akan menghilangkan lapangan pekerjaan. Yang ada adalah job loss. Job loss tidak sama dengan unemployment, karena job loss ini nantinya ada new job,” ucap Bambang.

Menurutnya, kehadiran perusahaan rintisan (startup) akan meningkatkan jumlah lapangan kerja yang ada. Perkembangan industri 4.0 akan mendorong perekonomian Indonesia menjadi lebih efisien. Sebab akan terjadi pengalihan dimana pertumbuhan ekonomi tidak akan bertumpu lagi kepada Sumber Daya Alam (SDA) tetapi beralih kepada manufaktur dan sumber daya manusia (SDM).

“Saat berbicara SDM unggul sekaligus berbicara peralihan dari bertumpu pada SDA menjadi bergantung pada SDM, khususnya modal manusia tadi yang kita harapkan punya produktifitas tinggi,” ucap Bambang.

Ia mengatakan, produktivitas tenaga kerja di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data Bank Dunia skor Indeks Modal Manusia (Human Capital Index/IHC) Indonesia hanya 0,53. Angka itu jauh di bawah Singapura yang mencapai 0,88 dan Vietnam 0,66.

"Berdasarkan Bank Dunia, ini artinya berdasarkan capaian dan status kesehatan anak-anak yang sekarang lahir, 18 tahun lagi nanti hanya bisa mencapai 53% dari potensi produktivitasnya," ucap Bambang.

Di era Industri 4.0 tak dapat dicapai dengan cara yang biasa atau business as usual. Perlu ada terobosan dalam pembelajaran dan pikiran yang inovatif. Bahkan proses belajar-mengajar bukan satu arah seperti dahulu, dimana guru mnjadi pusatnya. “Sekarang justru murid yang jadi pusatnya. Cara belajar pun bercampur antara tatap muka dan mengajar melalui sarana daring (online)," ucap Bambang.

Optimalkan Blockchain

Secara terpisah, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, pihaknya terus mengoptimalkan sektor digital untuk mendorong perekonomian domestik. Salah satu sektor yang akan didorong yaitu pemanfaatan blockchain di dunia industri. Oleh karena itu dunia usaha dan masyarakat secara keseluruhan harus diberikan edukasi dan wawasan terutama kepada perusahaan. “Kami melihat blcokchain memiliki dampak signifikan dengan perekonomian dunia usaha,” ucap Rosan.

Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir teknologi blockhain memiliki potensi untuk melakukan transformasi di sektor finansal dan sektorsektor lainnya, terutama terkait pembaruan dalam sistem transaksi. Perusahaan berskala besar dan sedang yang berkembang di dunia digital ini sedang mendalami maupun mengembangkan layanan teknologi ini agar tetap berperan di pasar yang kompetitif.

“Kalau kita lihat dari UMKM akan mendapat banyak manfaat kalau dihubungkan dengan berbagai sektor. Dengan blockchain akan menjadi jauh lebih aman karena tidak ada lokalisir di satu tempat. Kami harapkan ini bisa memberikan suatu efisensi dan daya saing untuk perusahaan di Indonesa baik logistik, perbankan, dan manufaktur," ucap Rosan.