Rilis 6 FMB 9: RCEP Dorong Industri Nasional Masuk Rantai Pasok Produksi Asia Pasifik

TANGGAL :
Rabu, 20 November 2019

JAM NAIK BERITA :
16:32:43

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
RCEP

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Jakarta - Indonesia memanfaatkan perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dengan seluruh negara ASEAN dan enam negara mitra regional Asia Pasifik agar industri nasional masuk ke dalam proses rantai pasok produksi kawasan.
"Kenapa tidak perjanjian bilatareal ini tidak kita gabungkan sehingga nanti semua anggota RCEP mendapat manfaat dari rantai pasok sehingga nilai tambah buat ASEAN dalam membangun industrinya," ujar Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan Donna Gultom.

Demikian disampaikan Donna Gultom dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertema “RCEP: Berharap Investasi” di Kemenkominfo, Jakarta pada Rabu (20/11/2019).

Donna Gultom menjelaskan, perjanjian RCEP ini awalnya dibentuk pada tahun 2011 dengan inisiatif dari Indonesia. Selama ini negara-negara ASEAN memiliki perjanjian perdagangan bilateral sendiri-sendiri dengan Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan maupun Australia. Indonesia menawarkan agar blok perdagangan kawasan ini semakin diperluas dengan negara-negara ekonomi besar seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Australia dan Selandia Baru sehingga seluruh negara kawasan merasakan manfaatnya.

"RCEP memiliki tujuan progresif menghapuskan tarif dan hambatan non-tarif serta memfasilitasi dan meningkatkan transparansi antar negara anggota. Ada peluang yang harus bisa dimanfaatkan yakni pembukaan akses pasar, jasa dan investasi," jelas Donna Gultom.

Direktur Perundingan ASEAN Kemendag ini menambahkan skema RCEP bisa dikatakan blok perdagangan terbesar di dunia karena total produk domestik bruto (GDP) 16 negara RCEP jumlahnya sepertiga atau 32% GDP dunia. Nilainya lebih besar dari perjanjian Kemitraaan Strategis Ekonomi Trans Pasifik jika tidak memasukkan Amerika Serikat.

Menurut Donna, lewat RCEP ini diharapkan Indonesia semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan memperkuat integrasi suplai rantai pasok produksi industri nasional sekaligus memanfaatkan potensi dan kapasitas dari negara-negara yang tergabung dalam skema RCEP ini.

Beberapa industri andalan Indonesia yang bisa bersaing dalam skema RCEP ini antara lain otomotif, kimia, farmasi, elektronik, dan agroindustri.

"Ini kesempatan Indonesia untuk menikmati fasilitas RCEP agar memacu pertumbuhan dan investasi ekonomi. Kalau ini bisa berjalan dengan baik diharapkan pada 2045, GDP Indonesia bisa mencapai US$7 ribuan triliun, jauh melampaui GDP saat ini sekitar US$1.000-an triliun," tukas Donna Gultom.

Diskusi Media tersebut juga menghadirkan narasumber lainnya yaitu Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian Rizal Affandi Lukman, dan Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Ina Hagniningtyas Krisnamurthi.

Acara FMB9 ini juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.go.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube).