Indonesia Berpotensi Menarik Sepertiga Investasi Dunia

TANGGAL :
Kamis, 21 November 2019

JAM NAIK BERITA :
15:07:17

MEDIA :
Koran Tempo

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Donna Gultom, Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan,Rizal Affandi Lukman, Deputi Bid. Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kemenko Perekonomian

TONE :
Pro

TOPIC :
RCEP

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 244.490.400

AD :
Rp. 81.496.800

FILE ORIGINAL :


Jakarta — Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Perekonomian, Rizal Affandi Lukman, mengatakan perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa menarik sepertiga investasi langsung asing (foreign direct investment/ FDI) masuk ke Indonesia. Pada 2018, Rizal mencatat total FDI di seluruh negara sebesar US$ 1.297,2 tri- liun. Untuk kawasan Asia Tenggara (ASEAN) plus enam negara mitra perjanjian dagang (FTA), investasi mencapai US$ 422,2 triliun atau 32,5 persen dari FDI total.
“Untuk itu, kami terus berbenah karena bersaing. Investasi itu bisa floating around (mengambang) di negara-negara ini untuk memilih. Indonesia dapat menarik investasi langsung dari blok dagang terbesar di dunia,” ujar Rizal di Jakarta, kemarin.

Putaran perundingan RCEP tinggal selangkah lagi. Setelah mencapai kesepakatan pada Konferensi Tingkat Tinggi ke-35 ASEAN di Bangkok, beberapa waktu lalu, penandatanganan RCEP ditargetkan dilakukan pada tahun depan. Setidaknya ada tiga isu penting dalam perundingan RCEP, yaitu perdagangan barang, perdagangan jasa, dan investasi. Rizal menyebutkan perundingan ini menjadi sangat penting karena dapat menjadi penyeimbang proteksi dagang sejumlah negara.

“Dengan membuka hubungan dagang yang lebih luas lagi, Indonesia dapat menghindari ekonomi biaya tinggi. Juga membuka akses pasar bagi produk Indonesia seluas-luasnya,” ujar Rizal.

Direktur Perundingan ASEAN Kementerian Perdagangan, Donna Gultom, menuturkan industri otomotif dan kimia akan memiliki potensi yang besar dari perjanjian tersebut. Tapi, kata dia, peluang tersebut tidak akan membuahkan hasil jika Indonesia tidak mempersiapkan infrastruktur pendukung, salah satunya pelabuhan untuk ekspor. “Jadi, memang banyak hal yang harus kami siapkan. Korea sudah masuk permintaan farmasi. Lalu otomotif juga kita harapkan bertambah dari Jepang,” ujar Donna.

Staf Ahli Bidang Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, menuturkan RCEP ini sekaligus bisa menjaga iklim perdagangan Indonesia di tengah dinamika global yang ekstrem. RCEP dinilai bisa menjadi momentum untuk bermain dalam diplomasi ekonomi. "Tapi hambatan dan tantangan dalam negeri masih luar biasa besar. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan,” tutur Ina.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani, menuturkan RCEP merupakan perjanjian dagang dengan potensi besar dan risiko besar. Menurut dia, Indonesia akan punya risiko peningkatan impor yang tinggi selepas RCEP apabila pemerintah tidak cepat- cepat melakukan perbaikan iklim usaha dan iklim investasi nasional agar lebih berdaya saing.