Soal Sertifikasi Perkawinan, Kemenag: Bimbingan Pasca Pernikahan Juga Penting

TANGGAL :
Minggu, 24 November 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
Kiblat.net

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Mohsen, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama

TONE :
Pro

TOPIC :
Sertifikasi Perkawinan

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 15.000.000

AD :
Rp. 5.000.000

LINK ORIGINAL :

Jakarta – Direktur Bina KUA (Kantor Urusan Agama) dan Keluarga Sakinah Kemenag, Mohsen mengklaim bahwa di samping sertifikasi perkawinan untuk memperkuat ketahanan keluarga, bimbingan pasca pernikahan juga penting.
“Bukan hanya bimbingan pra-pernikahan tapi bimbingan pasca pernikahan juga penting,” kata Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama, Mohsen dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Perlukah Sertifikasi Perkawinan?” yang digelar di Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (22/11/2019).

Mohsen menjelaskan bahwa setelah pernikahan, keluarga juga masih membutuhkan bimbingan.

“Karena pada awal-awal masa pernikahan yaitu 0-5 tahun rentan terhadap berbagai persoalan dan persoalan yang paling sensitif itu adalah yang menyangkut perceraian. Maka bimbingan pernikahan ditujukan untuk menjaga harmoni keluarga dan menjaga ketahanan keluarga,” jelasnya.

Menurut Mohsen, bimbingan pasca pernikahan ini akan terintegrasi dengan Kementrian atau Lembaga terkait seperti Kementrian Kesehatan, Kementerian Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemendiknas hingga BKKBN.

“Dengan demikian sejak awal kita dapat mendeteksi masalah-masalah yang terjadi dalam pernikahan di masyarakat,” tambahnya.

Untuk memperkaya isi dari bimbingan pasca pernikahan, menurut Mohsen, ada penambahan konten-konten yang paling penting seperti masalah-masalah hukum dan seterusnya.

Mohsen sendiri memperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk layanan ini adalah sebesar Rp 800 miliar per tahun untuk dua juta pasangan pengantin per tahun.

“Saat ini, juga dapat memberikan konten-konten yang berkait dengan perspektif keadilan kesetaraan gender, KDRT, dan yang perlu juga moderasi beragama di dalam keluarga. Kita mengharapkan bahwa ketahanan keluarga itu akan betul-betul kita kawal dan membangun keluarga yang sukses dan pada ahirnya melahirkan masyarakat yang sukses,” pungkas Mohsen.