Materi Sertifikasi Perkawinan Masih Dibahas

TANGGAL :
Sabtu, 23 November 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
Republika

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Sertifikasi Perkawinan

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Hal. 4

PR :
Rp. 370.440.000

AD :
Rp. 123.480.000

FILE ORIGINAL :


Jakarta — Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) masih membahas teknis materi sertifikasi perkawinan. Aturan tentang petunjuk sebelum pernikahan saat ini masih menggunakan aturan lama.
Deputi Bidang Koodinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK Ghafur Akbar Dharmaputra mengatakan, teknis dan materi sertifikasi perkawinan masih dibicarakan lintas kementerian/lembaga. “Kami sedang berkoordinasi dan mengumpulkan masukan-masukan,” kata dia di Jakarta, Jumat (21/11).

Beberapa pihak yang dimintai masukan, di antaranya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) dan juga organisasi agama, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Ghafur mengatakan, nantinya materi ini terdiri atas berbagai aspek, termasuk konseling dengan psikolog mengenai pernikahan. Materi akan disampaikan dengan bahasa gaul karena kebanyakan calon pengantin dari generasi milenial. Nantinya, materi juga akan dimasukkan terkait pengentasan kemiskinan.

Sertifikasi perkawinan ini diharapkan bisa mengurangi kemungkinan masalah buruk akibat perkawinan, seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), stunting, hingga kematian ibu akibat pernikahan dini.

Ghafur menegaskan, sertifikasi pranikah bertolak dari pemahaman bahwa keluarga merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia. “Bimbingan perkawinan merupakan salah satu cara pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Kami meyakini, keluarga yang kokoh, tangguh, dan berketahanan merupakan fondasi dalam menciptakan ketahanan nasional,” kata dia.

Ghafur melanjutkan, bimbingan perkawinan adalah usaha untuk mempersiapkan pasangan calon memasuki mahligai rumah tangga. Lantaran itulah, kelak dalam bimbingan perkawinan yang tengah digodok pemerintah akan diisi dengan sejumlah materi terkait.

“Antara lain, cara mewujudkan keluarga bahagia. Kemudian, bagaimana membangun kesadaran bersama antara suami istri, termasuk soal berbagi peran. Selanjutnya, ada pula materi tentang mewujudkan keluarga sehat dan berkualitas," kata dia.

Selain itu, juga disiapkan materi tentang upaya mengatasi konflik keluarga, lalu materi terkait upaya memperkokoh komitmen. “Disiapkan pula materi terkait keterampilan hidup untuk menghadapi tantangan global, dalam hal ini lifeskill dan softskill. Misalnya, dengan memberi kemampuan berusaha, termasuk mendapatkan modal untuk usaha,” ujar dia.

Materi-materi itu dinilai penting karena kondisi rumah tangga di Indonesia secara umum, seperti diungkapkan data Susenas 2018, sedikitnya terjadi 11,2 persen perkawinan anak atau di bawah umur. Bukan hanya itu, sepanjang 2018 pun, berdasarkan data Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung, ada sebanyak 375.714 kasus perceraian yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data lain, dari Kementerian Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan (KPPPA) juga mengungkap bahwa sebanyak 1.220 pelaku kekerasan keluarga adalah orang tua dan 2.825 pelaku lainnya adalah suami/istri.

“Angka-angka itu cukup tinggi. Dan yang lebih menyedihkan lagi, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang 2017 menunjukkan bahwa sedikitnya 393 anak mengalami kekerasan seksual dalam rumah tangga,” ujar dia.

Kemenko PMK, lanjut Ghafur, berupaya agar calon pengantin merasa sertifikasi perkawinan menjadi kebutuhan sebagai bekal saat membina rumah tangga. Materi dan teknis sertifikasi perkawinan ditargetkan bisa diselesaikan dan diumumkan pada 2020 mendatang kemudian bisa diterapkan.

BKKBN mengusulkan 10 materi pokok kursus pranikah masuk dalam materi sertifikasi perkawinan. Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, BKKBN sangat berkonsentrasi pada urusan kesehatan reproduksi pada calon pengantin.

“Saya rasa, penting diadakannya penyuluhan pranikah dalam hal ini BKKBN memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi bimbingan ini, jadi ini tidak sulit untuk kami,” ujar dia.

Adapun semua materi yang sudah disiapkan oleh BKKBN, di antaranya, pentingnya imunisasi pranikah, pentingnya konsumsi vitamin, seperti asam folat dan vitamin D sejak hamil, merencanakan kehamilan yang sehat dan menghitung masa subur, pengaruh, dan cara mengatasi mual muntah saat kehamilan awal dan lain-lain.

“Semua materi yang kami sampaikan nani akan disajikan sangat sederhana, jadi semua bisa paham," ujar dia.