Riuh Redam "Transformasi Digital", Siapkah Kita?

TANGGAL :
Jum'at, 20 Desember 2019

JAM NAIK BERITA :
19:53:08

MEDIA :
Kompasiana.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Redaksi

TONE :
Pro

TOPIC :
Transformasi Digital

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 15.000.000

AD :
Rp. 5.000.000

LINK ORIGINAL :

Masih ada tidak ya sektor kehidupan yang hingga saat ini belum tersentuh dunia digital? Bertanyaan itu terlintas begitu melihat tema Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di gedung serbaguna Kementrian Komunikasi dan Informasi siang hingga sore yang menghadirkan 5 Narasumber sekaligus.
Masing-masing narasumber tersebut antara lain :
- Deputi bidang sarana dan prasarana Bappenas, bapak Kennedy Simanjuntak
- Dirjen Pembinaan dan pelatihan Produktifitas Kemenakertrans, Satrio Laleno

- Dewan Nasional Keuangan Inklusif ,Iskandar Simorangkir
- Pengamat Sosial Bapak Darmaningtyas
Turut menambah dinamika forum pegiat digital
Bari Arjono, Founder & CEO Digital Enteprise Indonesia.

Ditunjang oleh Palapa ring, Indonesia tengah menapaki revolusi digital. Tak hanya industri 4.0 yang tengah menuai prestasi saja. Visi Indonesia 2020-2025 untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) sangat tertunjang dengan adanya digitalisasi sistem baik secara keuangan, ataupun nilai sosial budaya lainnya.

Sebagai negara yang memiliki potensi penduduk dengan bonus demografi sedemikian rupa, revolusi digital tentu harus mampu dijabarkan pada tiap lini kehidupan masyarakat, tidak hanya yang menyangkut ekonomi-finansial semata. Melainkan dari sisi sosial budaya politik dan aspek Hankam lainnya.

Tema FMB 9 tentang Transformasi Digital Untung atau Buntung patut kiranya menjadi bahan monitoring dan evaluasi sejauhmana digitalisasi masuk dalam sistem yang mempersiapkan sumber daya manusia jauh lebih produktif. Sebut saja Pendidikan dan ketenagakerjaan.

Iskandar Simorangkir, Ketua Sekretariat Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) menyebut bahwa tren perkembangan Indonesia itu paling pesat. 5 dari 11 Unicorn di Asia Tenggara ada di Indonesia. Bahkan Digitalisasi Ciptakan Jutaan Pekerjaan Baru.Saya yakin bahwa dengan adanya ekonomi digital akan banyak tercipta pekerjaan baru, diprediksi akan tercipta 27 sampai 46 juta pekerjaan baru.

Berbeda halnya dengan pernyataan pengamat sosial Dharmaningtyas yang menyebut bahwa dunia digital harus tetap diwaspadai sebagai faktor yang menghambat terciptanya sharing ekonomi, sharing sosial dan sharing budaya.

Lebih lanjut Dharmanightyas menambah khususnya pendidikan harus mengarah pada pembangunan nalar dan karakter.
Transformasi digital dalam pembelajaran dan substansi itu bukan tujuan, hanya piranti. Pendidikan harus mengarah pada pembangunan nalar dan karakter yang baik, guna menyiapkan SDM yang siap menjawab kebutuhan perkembangan zaman

Digitalisasi nntuk menjawab jkses kepraktisan
Bangsa ini akan sustain kalau kita mampu memenuhi kebutuhan yang mendasar (fundamental). Digitalisasi itu piranti untuk menjawab akses kepraktisan, efisiensi, kecepatan, ekakuratan, dan kepastian.

Digitalisasi dilihat bagibyang memperoleh kemanfaatannya tentu akan menimbulkan keuntungan, namun sebaliknya bagi yang tidak menikmatinya, maka akan menimbulkan kesenjangan dimana timbul gap yang menumbuhkan stigma buntung.

Transformasi digital tentu harus memberikan keuntungan pada tiap segmen kehidupan masyarakat sebagai pengguna digital itu sendiri. Terlebih dalam menghadapi resesi global. Daya surbive UKM lokal akan tersupport oleh transformasi digital.


Itulah kenapa beragam pelatihan digital digelar baik di BLK (Balai Latihan Kerja) ataupun yang dilakukan oleh sinergisitas dengan phika swasta. Pelatihan ini secara gratis bisa diakses dan diikuti oleh masyarat.

Mari menjadikan transformasi digital untuk menjadi sarana pemerataan sosial, ekonomi, budaya di berbagai pelosok negeri.