Transformasi Digital : Membuka Peluang Indonesia Maju

TANGGAL :
Jum'at, 20 Desember 2019

JAM NAIK BERITA :
19:56:00

MEDIA :
Menara62.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Darmaningtyas, Pengamat Pendidikan

TONE :
Pro

TOPIC :
Transformasi Digital

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 15.000.000

AD :
Rp. 5.000.000

LINK ORIGINAL :

Jakarta – “Masih banyak talenta anak bangsa yang dapat dikembangkan di era ekonomi digital,” tukas pengamat pendidikan Darmaningtyas dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Transformasi Digital: Untung atau Buntung” di Kantor Kemkominfo di Jakarta, Jumat (20/12/2018).
Menurut Darmaningtyas, harus dicatat pula bahwa digitalisasi itu hanya piranti.”Justru cara berpikir manusia itu yang harus disiapkan di era ekonomi digital ini,” tambahnya lagi.

“Bangsa ini akan berkelanjutan dan kuat bila mampu memenuhi kebutuhan yg fundamental tadi. Jadi masih banyak talenta anak bangsa yg dapat dikembangkan asalkan kita mau menjawab kebutuhan yg fundamental,” tukasnya.

Juga menurutnya, ada dua masalah yang terjadi yaitu kesenjangan antar wilayah dan kesenjangan antar lapisan masyarakat.”Kesenjangan antar wilayah itu adalah ketersediaan infrastruktur antar wilayah yg dapat mendukung transformasi digital berbeda-beda, sehingga mustahil dilakukan transformasi digitalisasi secara nasional. Lalu potensi SDA (sumberdaya alam) dan SDM (sumberdaya manusia) maupun ketersediaan infrastruktur pendukung perlu menjadi basis pembuatan kebijakan pendidikan. Jawa, sebagian Sumatra, Bali, dan sebagian Sulawesi mungkin infrastrukturnya mendukung untuk memasuki transformasi digitalisasi, tapi yang lain belum tentu,” jelasnya.

Sedangkan masalah kesenjangan sosial antar lapisan masyarakat terjadi di semua wilayah, termasuk di perkotaan.”Sehingga kebijakan pendidikan dalam satu wilayah pun tidak bisa sama,” tambahnya.

Karena itu ada catatan penting yang harus dijawab oleh para pembuat kebijakan, menurut Darmanngtyas, yaitu kebijakan pendidikan nasional tidak bisa seragam/tunggal di seluruh wilayah, tetap merujuk pada potensi mereka masing-masing.

“Lalu ada peningkatan keterampilan SDM hanya akan tepat sasaran dan menghasilkan SDM yang produktif bila mempertimbangan kondisi geografis setiap wilayah dan perbedaan lapisan sosial tersebut. Selanjutnya pada wilayah-wilayah yang infrastruktur transportasi dan telekomunikasinya (termasuk pasokan listriknya) masih terkendala, tidak bisa dilakukan trasnformasi digitalisasi secara massif. Demikian pula pada lapisan sosial yang masuk kategori kelompok sosial bawah, digitalisasi proses pembelajaran bisa jadi beban pada mereka,” pungkas Darmingtyas.

Turut hadir sebagai narasumber Diskusi Media FMB 9 yaitu Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Kennedy Simanjuntak, Dirjen Binalattas Kemnaker Satrio Laleno, Iskandar Simorangkir dari DKNI (Dewan Nasional Keuangan Inklusif), dan pelaku ekonomi digital sebagai panelis yaitu Bari Arjono, Founder & CEO Digital Enteprise Indonesia.