Pengamat Ungkap Pola Rekrutmen Teroris di Indonesia yang Khas

TANGGAL :
Rabu, 16 Mei 2018
JAM NAIK BERITA :
22:25:11
MEDIA :
Netralnews.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Solahudin, Pengamat Terorisme UI

TONE :
Pro

TOPIC :
Perangi Terorisme

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

LINK ORIGINAL :

Jakarta - Pengamat Terorisme Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengungkapkan, Indonesia memiliki pola rekrutmen teroris yang khas dan berbeda dibanding dengan negara-negara lain di dunia.
Kata Solahudin, negara lain cenderung melakukan rekrutmen teroris via media sosial (medsos). Solahudin mengatakan, pola rekrutmen sosmed ini dilakukan oleh negara-negara Eropa bahkan di Malaysia.

"Sedangkan di Indonesia, radikalisasi berlangsung di medsos tetapi rekrutmen terjadi secara offline, tatap muka. Jadi tidak lewat dunia maya," kata Solahudin saat Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Rabu (16/5/2018).

Lebih lanjut Solahudin memaparkan bahwa pada tahun lalu dirinya melakukan penelitian pada 75 orang teroris dan menanyakan bagaimana pola mengenal paham radikal.

Ternyata, sembilan persen mengaku bergabung dalam kelompok ekstrimis via medsos, sisanya yakni 91 persen direkrut melalui offline, yakni tatap muka, salah satunya melalui forum keagamaan. "Jadi rekrutmen via offline, radikalisasinya via online," sambung dia.

Kata Solahudin ada berbagai alasan rekrutmen radikalisme via offline, salah satunya masyarakat Indonesia masih menilai pertemuan dan tatap muka sangat penting. Melalui tatap muka, ada kebebasan berekspresi, apalagi tak ada pasal di Undang-undang (UU) yang bisa jerat pihak yang promosikan terorisme.

"Itu (UU) tidak ada. Jadi mereka (kelompok radikal) punya kebebasan. Tidak membutuhkan online, offline aja bisa," tegas Solahudin.

Alasan lain perekrutan kelompok radikal tidak melalui medsos karena ekstrimis Indonesia tidak percaya hal berbau online, pasalnya, ada banyak kasus penipuan yang terjadi via online.

"Mereka (kelompok radikal Indonesia) tidak percaya via online. Banyak faktor. Misalnya di medsos itu banyak akun fasilitasi hijrah ke Siria dengan jasa membantu membuat dokumen palsu. Uang disetor, tapi dokumennya tidak pernah ada," jelas Solahudin.