Pengamat Terorisme UI: Teroris Butuh Media Sebarkan Rasa Takut, Media Tidak Boleh Siarkan Aksi Teror?

TANGGAL :
Rabu, 16 Mei 2018
JAM NAIK BERITA :
23:31:45
MEDIA :
Jabar.pojoksatu.id

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Solahudin, Pengamat Terorisme UI

TONE :
Pro

TOPIC :
Perangi Terorisme

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

LINK ORIGINAL :

Depok – Memberikan informasi aktual dan faktual menjadi tugas dari para jurnalis. Namun, nyatanya media kini dapat menjadi oksigen bagi para teroris untuk menyebarkan rasa takut dari aksi yang dilakukan.
Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin mengatakan, jika media tidak menyiarkan aksi mereka, itu bukanlah hal berarti. Sebab, esensi terorisme yang ingin disampaikan adalah menakut-nakuti masyarakat.

“Memang teroris ini oksigennya media untuk menyebarkan rasa takut secara meluas. Kalau aksi teror terjadi di kutub utara dan kutub selatan, pasti tidak akan menimbulkan rasa takut. Teroris membutuhkan media untuk menyebarkan rasa takut,” ujar Solahudin di Gedung Kominfo, Jakarta, Rabu (16/5).

Lebih lanjut Solahudin juga menilai para teroris zaman sekarang sudah paham akan news value (nilai berita). Hal tersebut bisa dilihat pada aksi terorisme bom bunuh diri teranyar di Surabaya, Jawa Timur.

“Apa teroris tahu news value? Tahu, itu sebabnya modus terbaru pakai anak-anak dan perempuan,” tegasnya.

Beberapa alasan pun dikemukakan Solahudin, salah satunya agar masyarakat dapat terkejut dengan aksi terbaru yang melibatkan anak dan perempuan. “Mereka tahu kalau laki-laki sudah biasa, tetapi kemudian kalau pelakuknya ibu dan anak-anak, itu baru luar biasa, baru akan dapat coverage yang luas,” terang Solahudin.

Oleh karena itu, keunikan pola aksi yang baru ini membuat Indonesia menjadi perhatian di dunia. Media asing pun meliput kasus ini karena pengeboman dilakukan oleh keluarga.

Menurut Solahudin, aksi terorisme melibatkan perempuan dan anak-anak ini dilakukan karena tiga alasan. Dengan tujuan yang menekankan keberadaannya mereka perlu disadari.

“Alasan pertama keamanan, kalau dilakukan perempuan dan anak-anak lebih sulit diidentifikasi. Kedua untuk mendapatkan coverage dari media sehingga menyebarkan rasa takut,” jelasnya.

“Terakhir, ini yang penting, sebagai pesan untuk disebarkan ke jaringan mereka sendiri, yaitu provokasi bahwa perempuan dan anak-anak aja berani, masak lo kagak berani,” pungkasnya.

Dalam melakukan aksinya, Solahudin menilai media ke depan perlu berhati-hati dalam memberitakan agar tidak menjadi corong penyebarluasan paham radikalisme. Sebaliknya, dirinya mengimbau agar masyarakat dapat bijak membedakan hoax dan realitas dengan konfirmasi ataupun membaca berita.