Peneliti Ungkap Alasan Keterlibatan Anak dan Perempuan dalam Aksi Terorisme

TANGGAL :
Rabu, 16 Mei 2018
JAM NAIK BERITA :
23:43:56
MEDIA :
Netralnews.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Solahudin, Pengamat Terorisme UI

TONE :
Pro

TOPIC :
Perangi Terorisme

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

LINK ORIGINAL :

Pengamat Terorisme Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengungkap alasan keterlibatan anak dan perempuan dalam aksi terorisme, seperti yang terjadi pada kasus bom Surabaya.
Kata Solahudin, keterlibatan anak dan perempuan memiliki kaitan dengan nilai berita yang dihasilkan. Pasalnya media diibaratkan sebagai oksigen bagi para terorisme, dengan esensi memperluas sebaran rasa ketakutan di tengah masyarakat.

Menurut Solahudin apabila laki-laki dewasa ledakkan diri dengan bom dinilai sudah biasa. Kata dia, rata-rata orang Indonesia melakukan hal itu untuk melakukan aksi terornya.

"Tapi bila pelaku adalah ibu dan anak, itu dinilai luar biasa. Ada news value (nilai berita), coverage (cakupan) luas dari media untuk beri rasa takut," kata Solahudin saat Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Rabu (16/5/2018).

Selain media, Solahudin mengatakan, media sosial (medsos) ternyata memiliki peran radikalisasi. Solahudin mencontohkan kasus bom Surabaya, dimana teroris bisa belajar rakit bom melalui medsos ada pula pihak teroris yang melakukan siaran langsung di Instagram, hingga ramai dimuat di media ISIS.

Kata Solahudin, memang saat ini telah banyak studi mengenai ekstrimisme daring (online) di Indonesia. Kelompok ekstrimisme ini kemudian memanfaatkan medsos secara maksimal untuk menjalankan misinya.

"Kalau aksi teror oleh perempuan dan anak, orang juga kan jadi tidak curiga. Selain itu ada juga pesan provokasi untuk jaringan ekstrimisme lainnya, 'masa anak-anak dan perempuan berani, laki-laki tidak berani?'," kata Solahudin.