Rilis 1: Cegah dan Perangi Aksi Teroris

TANGGAL :
Kamis, 17 Mei 2018
JAM NAIK BERITA :
15:02:36
MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Perangi Terorisme

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Jakarta – Indonesia kembali berduka akibat rentetan aksi terorisme yang menyebabkan sejumlah anggota polisi dan masyarakat tewas serta luka-luka. Hanya dalam waktu sepekan, para teroris melakukan aksi kejinya di dua kota.
Teranyar adalah serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, pada 13 Mei 2018, dan di Mapolrestabes Surabaya keesokan harinya, yang semuanya dilakukan oleh sekeluarga terduga teroris, baik yang bom gereja maupun bom Mapolrestabes.

Sedangkan sepekan sebelumnya, terjadi aksi kerusuhan, penyanderaan, dan pembunuhan anggota polisi oleh 156 narapidana teroris di rumah tahanan cabang Salemba di kompleks Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada tanggal 8 Mei 2018.

Aksi tersebut berlangsung selama 36 jam dan berakhir pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 07.15 WIB, setelah aparat keamanan memberikan ultimatum kepada para narapidana teroris untuk menyerah atau hadapi serbuan. Setelah menyatakan menyerah, seluruh narapidana teroris itu pun langsung dipindahkan ke Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Atas rentetan tindakan terorisme tersebut, Presiden Joko Widodo pun mengutuk keras dan menegaskan bahwa terorisme tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama apapun.

“Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun. Semua agama menolak terorisme apapun alasannya,” tegasnya.

Secara khusus, Presiden juga mengecam aksi bom bunuh diri di Surabaya dan menyebutnya sebagai perbuatan yang biadab dan melebihi batas kemanusiaan, karena melibatkan perempuan, bahkan anak-anak.

“Tindakan terorisme sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan yang menimbulkan korban anggota masyarakat, anggota kepolisian, dan anak-anak yang tidak berdosa. Termasuk pelaku yang menggunakan dua anak berumur kurang lebih 10 tahun yang digunakan juga untuk pelaku bom bunuh diri,” tegasnya.

Kendati demikian, Presiden memastikan bahwa negara dan rakyat Indonesia tidak akan pernah takut terhadap terorisme dan menekankan bahwa aksi tersebut sebagai tindakan pengecut.

“Seluruh aparat negara tak akan membiarkan tindakan pengecut semacam ini. Saya mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, radikalisme, yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan kebinekaan," tegasnya.

Aksi Terorisme di Dunia Maya

Ada yang bilang teknologi itu seperti dua sisi koin yang mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Dengan berkembangnya teknologi yang berimbas pula pada berkembangnya media komunikasi, menyebabkan aksi terorisme juga bisa terjadi di dunia maya atau internet.

Terkait aksi para teroris yang terjadi selama sepekan di Indonesia tersebut di atas, beragam reaksi masyarakat juga turut meramaikan dunia maya, khususnya media sosial, di mana reaksi tersebut baik secara sadar ataupun tidak sadar juga bisa dinilai sebagai bagian dari aksi terorisme.

Pada dasarnya, tujuan dari terorisme adalah bukan banyaknya korban jiwa, melainkan efek ketakutan yang diberikan akibat dari aksi para teroris. Maka itu, dengan perilaku menyebarkan gambar, foto, dan video korban aksi terorisme di dunia maya adalah tujuan sebenarnya dari para pelaku.

Pasalnya, dengan melihat gambar, foto, dan video korban aksi terorisme, secara psikologis dapat menimbulkan ketakutan berlebih kepada mereka yang melihatnya. Inilah yang justru diinginkan oleh para pelaku.

“Penyebaran foto dan video memberi oksigen bagi para teroris yang ingin menyebar ketakutan di masyarakat,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

Tidak hanya gambar, foto, dan video, saat terjadi rentetan serangan bom bunuh diri di Surabaya, banyak juga pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kejadian ini dengan menyebarkan hoax atau berita bohong perihal adanya ledakan bom susulan di sejumlah tempat.

Tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu mengenai info tersebut, masyarakat pun secara tidak sadar langsung menyebarkannya di media sosial, yang tentunya berpotensi menambah ketakutan publik.

Efek tidak langsung seperti inilah yang kemudian bisa juga dimasukan dalam kategori aksi terorisme di dunia maya. Terkait ini, Kepolisian RI dan Kemkominfo pun mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk setop menyebarkan gambar, foto, dan video terkait terorisme, serta mewaspadai adanya berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

Lalu pertanyaannya, bagaimana seharusnya masyarakat bersikap saat terjadi aksi terorisme? Kemana masyarakat harus mengadu jika menemukan info atau konten negatif dan meresahkan terkait terorisme?

Kemudian, jika berbicara soal informasi, tentu tidak bisa lepas dari media massa. Terkait ini, lantas seperti apa peran media massa seharusnya dalam memberitakan terorisme?

Ditarik lebih jauh lagi, benarkah pernyataan Presiden bahwa terorisme itu tidak ada hubungannya dengan agama apapun? Atau adakah hubungannya, mengingat sebagian besar para teroris saat aksinya membawa-bawa agama tertentu?

Untuk menjawab itu semua, Kemkominfo kembali menggelar Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Cegah dan Perangi Aksi Teroris” yang akan berlangsung di Gedung Serba Guna Kemkominfo, Jakarta, Rabu (16/5/2018), pukul 09.00 WIB.

Hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Menkominfo Rudiantara, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Dewan Pers Josef Adi Prasetyo, dan Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).