Rilis 1: Merawat Keberagaman, Menangkal Terorisme dan Radikalisme

TANGGAL :
Rabu, 30 Mei 2018
JAM NAIK BERITA :
15:51:14
MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Merawat Keberagaman

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Jakarta (30/5/2018) - Belakangan, terasa jelas betapa keberagaman yang ada di Indonesia sedang mengalami ujian. Itulah sebabnya, seluruh elemen bangsa senantiasa diingatkan untuk bersatu-padu terus menjaga kebinekaan yang ada di tengah masyakat. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengingatkan, Indonesia terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau, lebih dari 13 ribu suku, banyak agama dan keyakinan. “Itulah sebabnya, Bhineka Tunggal Ika ini harga mati, inilah yang namanya NKRI,” katanya.Sejatinya, menurut Mendagri, Indonesia telah teruji sebagai bangsa yang senantiasa merawat keragaman. Di mana, sambung dia, Bhineka Tunggal Ika menjadi semangat dan nilai yang menyatukan bangsa ini. Sejarah, menurut Mendagri, bahkan telah membuktikan bagaimana NKRI diuji. Dan hingga sekarang, NKRI tetap tegak berdiri.Mendagri mengakui, akhir-akhir ini kebhinekaan kembali diuji. Lantaran itulah, dia mengingatkan agar semua pihak waspada.
“Saya mengimbau semuanya untuk kembali mengikat kebhinekaan, membangun komunikasi, serta memperkuat dan memperkokoh kembali NKRI tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan,” tuturnya.Mendagri menegaskan, Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika bisa dikatakan sebagai azimat bangsa. Ini adalah kekuatan sekaligus penanda kedaulatan. “Pancasila harga mati. Pun NKRI, dan Kebhinekaan. Tapi sejak Indonesia merdeka, banyak yang terus merongrong,” katanya.

Upaya merongrong tersebut, menurut Mendagri, terkait pada tiga permasalahan yang memang masih dihadapi bangsa sejak merdeka 71 tahun lalu. “Tiga permasalahan itu terkait dengan sandang, pangan, dan papan,” urainya.Namun di era Jokowi, Mendagri mengatakan, pekerjaan rumah yang belum rampung itu senantiasa coba diselesaikan. Percepatan pembangunan dengan bertumpu pada pemerataan digenjot terus. “Dalam mempercepat pembangunan, pemerintah mencermati kembali masalah-masalah yang berkaitan dengan kemiskinan, ketimpangan sosial, menyangkut lapangan pekerjaan, dan masalah pengangguran,” katanya.

Kembalikan Esensi Agama
Ajakan senada kepada semua elemen bangsa juga disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Menag mengajak semua bersama-sama mengembalikan esensi agama yang sejati dalam rangka merawat keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia."Kami mengajak semua untuk selalu membicarakan, mengedepankan, dan menekankan perlunya mengembalikan agama pada esensi yang seharusnya," tuturnya.Menag menjelaskan, esensi ajaran agama yang sejati ialah menjunjung tinggi nilai-nilai yang mengajak diri sendiri dan orang lain untuk memanusiakan antarsesamanya."‎Kita tak ingin agama dibajak, direduksi, diperkecil pemaknaannya, lalu kemudian diubah sedemikian rupa dan kita jadi mengharapkan dari orang lain, padahal agama hakekatnya adalah memberi," ujar Menag.Dalam konteks Indonesia, Menag menambahkan, pengembalian esensi nilai keagamaan yang sejati salah satunya memelihara dan merawat makna agama dalam rangka menjalin kemajemukan bangsa."Nilai-nilai agama haruslah diarahkan sebagai sesuatu yang justru berfungsi menjaga, merawat, menjalin dan merajut kemajemukan kita yang luar biasa besar," ucapnya.Menag berharap, Indonesia tidak mengalami nasib yang dialami negara lain, di mana pertumpahan darah antarumat beragama kerap terjadi lantaran agama dijadikan alat dan dipolitisasi untuk suatu hal tertentu yang pada akhirnya persaudaraan antarsesama umat manusia tergerus dan terdegradasi.

Peran Penting Generasi Muda

Peran generasi muda dalam merawat keberagaman dan menangkal masuknya radikalisme hingga terorisme memiliki nilai yang sangat penting. Perlu sejumlah upaya untuk membangun jiwa-jiwa muda yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Di antaranya, menurut Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, untuk memerangi radikalisme dapat dilakukan dengan mengembangkan keteladanan.

"Kita sebenarnya banyak punya teladan, tetapi sayangnya tidak pernah diungkap di ruang publik, karena yang diutamakan justru caci-maki, mencemooh, dan saling menegasi," ucapnya.Lantaran itulah, Yudi mengatakan, demi lebih memantapkan paham nasionalisme, semestinya sila-sila Pancasila diterjemahkan dalam berbagai institusi, baik institusi politik maupun ekonomi.Terlebih, diingatkan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif, membumikan Pancasila memang bukanlah tugas pemerintah semata.

"Jika anak muda menjalankan, memahami dan melaksanakan Pancasila, maka mereka sedang menumbuhkembangkan prestasinya. Hasil dari prestasinya itulah yang dinikmati oleh lingkungan dan masyarakat sekitarnya," katanya. Yudi memaparkan, Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dijaga oleh banyak warna dan diperjuangkan oleh banyak warna pula. Itulah sebabnya, Yudi menegaskan, ketimbang antarwarna menegasikan satu sama lain, alangkah lebih baik bila semua warna ini saling berpadu menghadirkan pemandangan yang luar biasa.

Lalu pertanyaannya, apakah beragam strategi dalam merawat kebinekaan sudah tepat? Apa saja langkah terobosan yang harus dilakukan, demi mampu melampaui ujian kebangsaan kali ini?Ditarik lebih jauh lagi, jika memang generasi muda mengemban peran penting dalam upaya merawat keberagaman dan menangkal radikalisme, bagaimana peran dunia pendidikan seharusnya,? Untuk menjawab itu semua, Kemenkominfo kembali menggelar Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Merawat Keberagaman, Menangkal Radikalisme dan Terorisme” yang akan berlangsung di Ruang Serba Guna Roeslan Abdulgani, Gedung Depan Kemenkominfo, Jakarta, Rabu (30/5/2018), pukul 14.00 WIB.

Hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agama, Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Prof Dr Hariyono M.Pd, dan Wasekjen PBNU Sulthonul.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).