Pertamina Cari Partner

TANGGAL :
Kamis, 2 Agustus 2018

JAM NAIK BERITA :
07:34:25

MEDIA :
Republika

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Nicke Widyawati, Plt Dirut PT Pertamina

TONE :
Pro

TOPIC :
Ketersediaan Migas

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Non Headline

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Jakarta - PT Pertamina (Persero) menyambut baik keputusan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memercayakan pengelolaan Blok Rokan. Keputusan ini murni diambil atas dasar pertimbangan bisnis dan ekonomi setelah mengevaluasi pengajuan proposal Pertamina yang dinilai lebih baik dalam mengelola blok tersebut.
PH Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, kepercayaan yang diberikan kepada Pertamina untuk mengelola blok dengan produksi lebih dari 200 ribu barel oil per hari merupakan langkah baik dari pemerintah. Pertamjna pun berjanji akan meningkatkan produksi hulu Pertamina yang akan mengurangi impor minyak sehingga bisa menghemat devisa sekitar 4 milliar dolar AS pertahun serta menurunkan biaya produksi hilir secara jangka panjang.

"Kami menilai pemerintah mem-perrJmbangakan keputusan ini dengan matang dalam rangka ketahanan energi nasional, penghematan devisa, dan potensi peningkatan dividen bagi negara," kata Nicke, Rabu (1/8).

Dalam mengoperasikan Blok Rokan, Pertamina akan membuka peluang untuk keterlibatan kontraktor lain. Kerja sama ini dibuka untuk memitigasi dua aspek. Pertama adalah mitigasi operasional.

Kerja sama ini perlu karena Pertamina berencana menambah eksplorasi titik baru untuk bisa menjaga produksi. Dalam tahap eksplorasi tersebut. Pertamina membutuhkan teknologi EOR. Nicke mengaku, selama ini teknologi EOR yang sekarang dipakai belum pernah digunakan Pertamina di sumur-sumur yang dimiliki.

"Kita kan mau meningkatkan kapasitas menjadi doble capacity. Kita butuh teknologi EOR. EOR di sumur pertamina belum pernah kami lakukan. Kita cari partner untuk ini," ujar Nicke.

Menurut dia. PT Cevron selama ini sudah mencoba mengembangkan teknologi EOR. Dengan masa transisi hingga 2022, Pertamina bisa mempelajari teknologi ini melalui Chevron. Nantinya, Pertamina akan mengevaluasi apakah perusahaan bisa mengerjakan EOR ini sendiri atau tidak.

Mitigasi kedua persoalan pendanaan. Nicke mengatakan, untuk bisa mengembangkan kapasitas ganda, Pertamina membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dia memprediksi Pertamina membutuhkan setidaknya 70 miliar dolar AS selama 20 tahun mendatang untuk bisa meningkatkan produksi Blok Rokan.

Permintaan untuk mencari partner juga dituturkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Dia menyarankan Pertamina untuk bisa mencari partner dalam mengoperasikan Blok Rokan. Partner ini nantinya harus pihak yang bisa membantu produksi Blok Rokan tetap besar.

"Apakah nanti setelah ini akan ada share down, nanti ada di Pertamina, bagaimana mereka menggandeng partner dalam meningkatkan produksi. Kita menyarankan untuk mencari partner di bidang oil and gas yang bisa meningkatkan produksi," ujar Arcandra pada Gas Indonesia Summit di JCC.

Meski demikian, pemerintah memberikan sepenuhnya keleluasaan kepada Pertamina terkait hal ini. Sebab, pemerintah sudah memberikan hak pengelolaan 100 persen kepada Pertamina dan adanya participating interest lo persen kepada BUMD (Badan Usaha Milik Daerah).

Terpisah, keputusan pemerintah memberikan operasional Blok Rokan ke Pertamina hingga 2041 membuat ChevTon kecewa. Meski begitu, Chevron tetap bangga karena telah bermitra dengan Indonesia selama lebih dari 90 tahun.

"Meskipun kami kecewa mendengar informasi ini, kami sedang berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan informasi lebih lanjut," ujar Manager Corporate Communications and Spokesperson for Chevron Indonesia, Danya Dewanti, kepada Republika.