Pemerintah Sebut Pelemahan Rupiah Tak Perlu Disikapi Berlebihan

TANGGAL :
Rabu, 12 September 2018
JAM NAIK BERITA :
08:12:43
MEDIA :
Harian Neraca

JOURNALIST :
Bari

NARASUMBER :
Iskandar Simorangkir , Deputi Bid. Koordinasi Ekonomi Makro Kemenko Perekonomian

TONE :
Pro

TOPIC :
Bersatu Untuk Rupiah

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Jakarta - Pemerintah menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang pada pekan lalu hampir menyentuh Rp 15.000 per dolar AS, memang perlu diwaspadai, tapi tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. "Depresiasi peso Argentina mencapai 49,62 persen, depresiasi lira Turki 40,7 persen, sedangkan depresiasi rupiah year to date 8,5 persen. Menurut saya, ini hanya ketakutan berlebihan, tapi harus waspada, iya," kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir di Jakarta, Senin (10/9).
Neraca

Iskandar menuturkan, fundamental perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan Turki dan Argentina, terutama inflasi yang terkendali di level 3-4 persen dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi dari Januari hingga Agustus 2018 hanya mencapai 2,13 persen. "Kita baru khawatir kalau inflasi kita tinggi. Kekhawatiran fundamental kita itu rapuh, tidak pas," ujar Iskandar.

Ia pun menyinggung soal defisit neraca transaksi berjalan yang tercatat delapan miliar dolar AS atau 3,04 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS atau 2,21 persen dari PDB dan melewati batas aman defisit transaksi berjalan yaitu tiga persen.

Menurut Iskandar, setiap triwulan kedua, defisit neraca transaksi berjalan, memang cenderung tinggi seperti pada triwulan II2014 yang mencapai 4,24 persen. "Pada kuartal kedua kita ke-

marin kan banyak repatriasi keuntungan, makanya neraca pendapatan primer kita defisit cukup besar. Tapi, current account deficit 3,04 persen itu bukan kiamat, bukan merupakan suatu krisis," kata Iskandar.

Walaupun pada triwulan kedua 2018 defisit tran-saksiberjalan sudah mencapai batas maksimal yang dianggap aman yaitu tiga persen, namun jika dihitung per semester I 2018, defisit transaksi berjalan sebenarnya baru mencapai 2,6 persen dari PDB. Kendati demikian, Iskandar mengakui defisit neraca perdagangan Indonesia perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia juga melakukan berbagai upaya strategis untuk mengurangi impor dan meningkatkan ekspor.

"Kondisi global yang penuh ketidakpastian ini berpengaruh ke negara kita. Tapi, kita perlu waspada juga karena neraca dagang kita memang negatif. Kalau defisit transaksi berjalan memang sudah biasa, setiap triwulan kedua selalu de-fisitnya besar. Tapi defisit neraca perdagangan 3,1 miliar dolar di tengah ketidakpastian ini memang harus kita tangani," kata Iskandar.

Menguntungkan Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyanimen-gungkapkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar tidak memiliki dampak negative tergadap penerimaan maupun belanja negara. Bahkan, Sri Mulyani menyebut setiap pelemahan RplOO per dolar AS cenderung benar-benar memberikan peningkatan terhadap penerimaan maupun belanja negara. Hal itu dibuktikannya dari data primary balance per Agustus 2018 yang mampu surplus Rpl 1,5 triliun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mengalami defisit Rp84 tril-iun."Kami sampaikan, dengan postur APBN 2018. RplOO dari pelemahan rupiah kita terhadap dolarmemengaruhi kenaikan penerimaan kita sebesar Rp4,7 triliun dan belanja juga naik Rp3,l triliun. Tapi, kenaikan penerimaan lebih tinggi dari belanja sehingga- total balance-nyaa-dalah positi," tutur Sri Mulyani.