Ekonomi Indonesia Masih Stabil Meski Rupiah Melemah

TANGGAL :
Rabu, 12 September 2018
JAM NAIK BERITA :
09:32:00
MEDIA :
Harian Neraca

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Redaksi

TONE :
Pro

TOPIC :
Bersatu Untuk Rupiah

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan berita melemahnya nilai Rupiah bahkan hingga menginjak angka Rp 15.000. Bahkan beredar spekulasi-spekulasi yang meresahkan masyarakat yang menyangkutkan melemahnya nilai rupiah ini dengan krisis yang terjadi pada tahun 1998. Namun apakah benar melemahnya nilai rupiah ini akan menyebabkan Indonesia mengalami krisis ekonomi? Sama sekali tidak, ekonomi Indonesia masih tetap stabil bahkan meski nilai rupiah kini melemah. Hal ini juga dijelaskan oleh beberapa pakar-pakar ahli.
Stabilitas data penurunan nilai rupiah yangterjadi saat ini, tidak akan mencapai pada tiitk krisis moneter seperti yang terjadi pada tahun 1998. Pemerintah pun tidak panik, namun lebih mawas serta mengobservasi data-data market yang ada di Indonesia serta kejadian yang ada di Internasional.

Penurunan nilai rupiah kali ini juga tidak terlalu berpengaruh pada daya beli masyarakat, menurut Kepala Ekonom PT. Bank Central David. Hal ini dikarenakan seiring dengan pelemahan nilai rupiah, pemerintah Juga tetap menjaga harga-harga barang terutama makanan supaya tetap stabil. Bahkan tahun ini juga dapat dilihat gaji-gaji naik, harga-harga juga tetap terjaga stabil meskipun harga beras mengalamikenaikan harga. Beliau menjelaskan jika sebenarnya yang benar-benar merasakan dampak penurunan dari nilai rupiah ini adalah golongan masyarakat menengah ke atas yang memiliki gaya hidup serta konsumsi barang-barang impor. Sedangkan untuk masyarakat yang golongan menengah ke ba-

wah, kebutuhan makan dan hidup masih tetap tercukupi.

lalu apa sebenarnya yang menyebabkan penurunan nil ai rupiah terhadap Dollar? Ada berbagai faktor-faktor yang menyebabkan, hal pertama dikarenakan neraca perdagangan yang defisit. Berdasarkan data-data yang ada, neraca perdagangan yang ada di Indonesia sebenarnya sempat mengalami surplus pada bulan Maret-Juni 2018. Namun jika dilihat secara tahunan, neraca perdagangan mengalami defisit hingga sebanyak 1,02 miliar Dollar AS. Faktor kedua disebabkan karena kerja perdagangan yang kurang begini optimal. Perdagangan yang ada di dalam negeri memang cen-derungkurangoptimalyangmem-buat nilai rupiah terus melemah pada pertukaran nilai Dolar AS. Kondisi ini juga diyakini menjadi penyebab pertama yang kemudian berimbas pada defisit transaksi berjalan. Namun hal ini sebenarnya tak hanya terjadi pada nilai rupiah saja, namun juga terhadap mata-mata uang dari Negara-negara lainnya.

Faktor ketiga dikarenakan Yield Spread yang terjadi antara US Treasury (surat-surat berharga milik Pemerintah AS) dan surat-surat berharga Negara dengan tenor 10 tahun yang juga semakin lebar menjadi faktor yang cukup berpengaruh pada pelemahan nilai rupiah. Bhima Yudhistira, peneliti dari Institute of Development for Economis and Finance menjelaskan jika semakin besar yield spread menyebabkan investor-investor asing cenderung menjual surat- surat hutang Indonesia. Faktor keempat disebabkan karena perang dagang dan sistem perbankan. Menurut Shanti Rach-

mand, Presiden ASEAN International Business menjelaskan jika ada 2 faktor tambahan lainnya yang menyebabkan nilai rupiah anjlok. Penamayaitu infrastruktur sistem perbankan, di Indonesia yang kurang memadai serta adanya trade war (perang dagang) yang makin memperburuk kondisi keuangan global. Misalnya saja, pada beberapa waktu yang lalu Argentina mengalami krisis yang menjadi salah satu hal penyebab nilai rupiah melemah, menurut penjelasan Darmin Nasution selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Padahal Argentina baru saja mendapat pinjaman dana dari International Monetary Fund (IMF) selaku badan PBB sekitar 50 miliar Dollar. Namun dikarenakan arus modal keluar yang dimiliki Argentina masih sekarat, menyebabkan bunga nya dinaikkan hingga ke tingkat 60%. Hal ini yang menyebabkan kurs. mata uang di beberapa Negara-negara di Asia tenggaraa termasuk Indonesia juga ikut melemah.

Menurut Arief Wana, pengamat ekonomi, menjelaskan jika serangan-serangan dollar akan terus berkelanjutan menjadi hal

yang tidak bisa dipungkiri. Diawali dengan adanya trade war serta kenaikan suku bunga amerikan membuat kekuatan Dollar akan terus berlanjut. Namun tentu saja serangan Dollar ini tidak akan terusmenerusterjadikarenakeku-atan Dollar bisa menghambat ekspor serta perkembangan Ekonomi di Amerika Serikat.

Saat ini kebijakan Pemerintah Indonesia, Bank Indonesia, serta OIK memiliki pengaruh yang sangat penting agar jangan sampai ekonomi menjadi ikut melemah. Stabilitas menjadi hal yang penting dilakukan dalam jangka waktu dekat Bank Indonesia, dengan kebijakannya akan terus meningkatkan suku bunga agartetap menguatkan rupiah dan menjaga kestabilan. Baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang, pemerintah juga diharapkan menjaga momentum serta mengamankan kestabilan ekonomi Indonesia.

Dan tak hanya dalam bidang Economi saja, Wiranto juga menjelaskan jika penegakan hukum yang tegas dan politik juga dapat meningkatkan stabilitas serta keamanan sosial yang dapat mendorong perekonomian Negara.

Tidak akan ada Negara yang dap-atmembangun perekonomiannya jika keamanan politik nya terganggu. Pengusaha dan investor juga tidak akan menspekulasi modal pada Negara-negara yang keamanannya tidak stabil. Kejahatan-kejahatan seperti terorisme, kejahatan siber, kejahatan radikalisme, narkoba, korupsi, adu domba, dan hoaks menjadi bentuk ancaman Negara yang sedang dihadapi pemerintah. Untuk itu lah pemerintah memintakerjasamayangkom-pak pada TNI, Kepolisian, BNP! serta aparat-aparat lainnya yang berkepentingan agar tetap menjaga kestabilan politik sehingga keamanan di dalam Negara tidak terganggu, terlebih lagi untukmenga-mankan pemilu yang akan dilangsungkan tahun depan.

Meskipun kejadian-kejadian politik belum tentu langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi, namun bukan berarti hal ini tidak dapat terjadi. Untuk itu lah peran penting Pemerintah dan Aparat Keamanan Negara untuk membantu menjaga keamanan dan kestabilan Negara.

Selain itu, langkah-langkah lainnya yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini adalah berusaha memangkas Impor dan memperbaiki defisit neraca pembayaran agar dapat mendongkrak nilai rupiah. Impor memang menjadi satu-satunya solusi bagi Indonesia, apalagi Indonesia belum bisa berkomitmen memperbaiki kemandirian dalam bidang pan- gan. Untuk itu lah pemangkasan Impor ini akan berdampak cukup besar pada nilai tukar rupiah.

Selain itu, pemerintah Indo- nesia juga harus memperluas pada bidang ekspor barang dengan mencari pasar altematif.