Indonesia Masih Jauh dari Krisis 1998

TANGGAL :
Rabu, 12 September 2018
JAM NAIK BERITA :
10:00:00
MEDIA :
Pikiran Rakyat

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Doddy Zulvendi, Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI

TONE :
Pro

TOPIC :
Bersatu Untuk Rupiah

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Jakarta, - Menyamakan kondisi depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini dengan masa krisis pada 1998, dinilai tidak relevan karena kondisi fondasi ekonomi domestik saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan 20 tahun lalu.
Salah satu indikator sederhana untuk melihat dampak nilai tukar rupiah adalah dengan membandingkan pergerakan nilai tukar rupiah dengan harga barang atau inflasi,

"Saat ini inflasi cukup terkendali di sasaran pemerintah dan Bank Sentral, yakni 3,2% (yoy) per Agustus 2018," kata Direktur Eksekutif Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Doddy Zulverdi, pada diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Gedung Kemkominfo, Jakarta, seperti dikutip dari Kantor Berita Antara, Senin (10/9/2018).

Menurutnya, jika melihat data pada bulan yang sama di 1998, inflasi mencapai 78,2% (yoy).

Cara sederhana lainnya, menurut dia, melihat kondisi nilai tukar adalah dengan menelisik level pergerakannya, bukan hanya terpaku pada level atau nominal psikologisnya. Saat ini, rupiah memang berada di Rp 14.900 per dolar AS. Namun, nilai rupiah bisa menyentuh angka tersebut dari level Rp 13.400 per dolar AS selama kurun satu tahun atau terdepresiasi sekitar 8%.

"Ini berbeda dengan angka kurs Rp 15.000 pada 20 tahun lalu yang melemah dari level yang sangat dalam," katanya.

Pada September 1998, rupiah di level Rp 10.750 per dolar AS atau melemah 254% dibandingkan dengan September 1997 yang sebesar Rp 3.030 per dolar AS.

Doddy menuturkan, jika hanya melihat nilai tukar mata uang sebagai angka psikologis adalah kekeliruan. Nilai tukar mata uang seharusnya dilihat dari volatilitas pergerakannya.

"Bagi pelaku ekonomi yang relevan adalah seberapa cepat nilai tukar bergerak. Kalau bergerak dari Rp 13.500 ke Rp 15.000 per dolar AS persentase melemahnya hanya 7-8%. Itu akan sangat beda dampaknya ke kondisi keuangan," ujar Doddy.

Bank Sentral saat ini juga masih memiliki kecukupan amunisi menjaga stabilitas nilai tukar secara memadai, dibandingkan dengan masa krisis 1998. Pada 20 tahun lalu, cadangan devisa hanya tersisa 17 milair dolar AS. Sementara itu, per Agustus 2018, cadangan devisa Indonesia terkumpul 117 miliar dolar AS.

Cadangan devisa menjadi parameter yang juga dilihat investor global untuk melihat daya tahan perekonomian suatu negara untuk menjaga stabilitas dari tekanan eksternal dan memenuhi kewajiban utang valasnya.

"Selain itu, tahun 1998 berapa tingkat kredit macet perbankan (NPL)? lebih dari 30%, sekarang hanya 2,7% dan trennya terus turun, dan sebagainya. Yang jelas, tahun ini lebih baik daripada tahun 1998. Jadi, ironis jika ada yang bilang tahun ini kita krisis seperti tahun 1998," ujarnya.

BI berjanji akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan berbagai upaya seperti intervensi ganda di pasar SBN dan valas, penurunan biaya barter (swap) valas dan juga penyesuaian kebijakan moneter.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, pihaknya memiliki komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ia menjelaskan sudah meningkatkan intensitas intervensi terhadap mata uang.

"Komitmen Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama rupiah sangat kuat. Oleh karena itu, kami telah meningkatkan intensitas intervensi kami," kata Perry Warjiyo.

Sebagai informasi, di tahun ini rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 8%, setelah penurunan mata uang peso Argentina mengikuti lira volatilitas Turki.

Perry menjelaskan, BI akan terus memantau perkembangan pasar di Argentina dan Turki, meskipun ia menekankan bahwa ekonomi Indonesia masih kuat. (Dendi Sundayana)***

Fondasi Ekonomi R11998 dan

2018

mmmmm

Inflasi

78,2%

3,2%

Kurs rupiah

Melemah 254%

Melemah 8%

Kurs terendah

Rp 15.000-an

Rp 14.900-an

Cadangan devisa

17 miliar dolar AS

117 miliar dolar AS

Kredit macet

30%

2.7%