Rupiah Makin Perkasa di Level Rp 14.785 per USD

TANGGAL :
Kamis, 13 September 2018
JAM NAIK BERITA :
10:52:17
MEDIA :
Merdeka.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Doddy Zulvendi, Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI

TONE :
Pro

TOPIC :
Bersatu Untuk Rupiah

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

LINK ORIGINAL :

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) bergerak menguat di perdagangan hari ini, Kamis (13/9). Pagi ini, Rupiah dibuka di Rp 14.810 per USD atau menguat tipis dibandingkan penutupan perdagangan kemarin di Rp 14.832 per USD.
Mengutip data Bloomberg, Rupiah kembali menguat usai pembukaan. Tercatat, saat ini nilai tukar mampu meninggalkan level Rp 14.800-an per USD yaitu di Rp 14.785 per USD. Informasi saja, nilai tukar beberapa minggu lalu sempat merosot ke level Rp 15.000-an per USD.

Sebelumnya, Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia, Doddy Zulverdi meminta masyarakat agar lebih bijak dalam menanggapi depresiasi atau pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD).

Menurut dia, yang harus diperhatikan adalah pergerakan pelemahan atau fluktuasi nilai tukar terhadap USD bukan hanya memerhatikan besaran nilai nominal Rupiah per USD.

"Di Australia, Korea, Malaysia, Thailand, nilai tukar bergerak itu nyaris tidak pernah jadi berita besar, kecuali perubahannya sangat cepat," kata dia, dalam diskusi 'Bersatu untuk Rupiah', Jakarta, Senin (10/9).

Kesalahan berbagai pihak saat ini adalah melihat nilai tukar mata uang sebagai angka psikologis. Padahal, menurut Dodi, nilai tukar mata uang seharusnya yang dilihat pergerakan angkanya itu sendiri.

"Orang tidak melihatnya (nilai tukar) sebagai angka psikologis, tapi seberapa cepat bergeraknya. Jika angka bergerak hanya 8 seperti saat ini dibandingkan semisal naik dari level Rp 2.500 sampai ke Rp 15.000, ya jelas berbeda, itu sangat jauh kenaikannya," jelas Dodi.

Dia pun menegaskan bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika sebesar Rp 15.000 yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan nilai tukar yang sama yang terjadi pada krisis tahun 1998. Maka itu, kedua hal tersebut tidak bisa disamakan secara serta merta.