Rilis 1 : Bersatu untuk Sulteng

TANGGAL :
Rabu, 3 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
09:39:18

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Bersatu Untuk Sulteng

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


JAKARTA (2/10/2018) - Indonesia kembali diselimuti duka. Belum lama Lombok, Nusa Tenggara Barat, memasuki masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa, bencana alam kembali mengguncang Indonesia, tepatnya di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
Pada Jumat (29/9/2018), pukul 17.02 WIB, saudara-saudara kita di sana diguncang gempa magnitudo 7,4 SR yang juga disusul terjangan tsunami setinggi 3 meter serta likuifaksi tanah (tanah bergerak). Berdasarkan data terakhir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (1/10/2018), pukul 13.00 WIB, tercatat sebanyak 844 orang meninggal dunia yang terdiri dari 821 orang di Palu, 11 orang di Donggala, dan 12 orang di Parigi Moutong.

Sementara korban luka berat ada sebanyak 5.632 orang yang dirawat di rumah sakit, 90 orang hilang, dan pengungsi tercatat 48.025 orang yang tersebar di 103 titik. Selain warga lokal, ada juga warga negara asing (WNA) yang terdampak gempa di Palu dan Donggala, yakni berjumlah 114 orang.
BNPB pun memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah karena masih banyaknya korban yang belum teridentifikasi, ditemukan, dan terjangkau oleh Tim SAR.

Sementara terkait evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban, BNPB mengungkapkan bahwa bantuan personel dan perlengkapan Tim SAR gabungan terus berdatangan dari Kementerian dan Lembaga terkait.

Saat ini, Tim Basarnas dan Tim SAR Gabungan tersebut terus melakukan pencarian korban di sejumlah titik, antara lain Hotel Roa-Roa, Balaroa, Patobo, Mall Ramayana, Restaurant Dunia Baru, dan Pantai Talise di Palu, serta di Sigi dan Donggala.

Adapun kendala yang terjadi selama proses tanggap darurat ini adalah listrik padam, akses komunikasi, alat berat terbatas, jumlah personel dan perlengkapan yang perlu ditambah, dan kondisi jalan rusak untuk mengirim alat berat dari luar Palu.

Di samping dukungan dari dalam negeri, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto selaku Koordinator Penanganan Bencana Sulawesi Tengah mengungkapkan bahwa Pemerintah memutuskan untuk menerima bantuan dari luar negeri dan saat ini sudah ada 18 negara yang menawarkan bantuan.

Lalu bagaimana langkah cepat pemerintah untuk mengatasi semua kendala-kendala tersebut? Apa pertimbangan Pemerintah memutuskan untuk menerima bantuan dari luar negeri? Negara mana saja yang sudah menawarkan bantuan penanganan pascagempa tersebut? Seperti apa mekanisme dan koordinasi terkait bantuan dari luar negeri?

Pemerintah akan menjawab itu semua dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan tema "Bersatu untuk Sulteng", bertempat di Ruang Serba Guna Kementerian Kominfo, Selasa (2/10/2018), pukul 17.00 WIB.

Dijadwalkan hadir dalam FMB 9 kali ini antara lain Menko Polhukam Wiranto, Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita, Menkominfo Rudiantara, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala BKPM Thomas Lembong, dan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).