Rilis 1 Update Bencana Sulteng: Setelah Evakuasi Dihentikan, Fokus pada Tahapan Transisi Pemulihan

TANGGAL :
Selasa, 9 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
14:11:08

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VI

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan pencarian korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) tidak dilanjutkan setelah Kamis (11/10). Untuk itu, tim SAR gabungan akan memaksimalkan sisa waktu tiga hari ke depan. Untuk kemudian fokus memasuki tahapan transisi pemulihan.
Demikian disampaikan Kepala BNPB Willem Rampangilei, dalam Diskusi Media FMB 9 di Aula Gedung BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Senin (8/10/2018), pukul 13.00 WIB, yang mengusung tema “Update Tanggap Bencana Sulteng: Mendorong Kesiapan Sulteng Bangkit”.

Disebutkan Willem kemarin, sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Badan SAR Nasional (Basarnas), pencarian korban hanya berlangsung tujuh hari. "Jika dilihat dari hari ini, maka sudah ada penambahan empat hari. Lalu ditambah lagi tiga hari berikutnya hingga Kamis mendatang. Itu berarti, sudah 14 hari,” ujarnya.

Selain sudah dilakukan penambahan waktu, Willem mengakui ada pertimbangan lainnnya. Yakni, menurut Willem, pada rentang waktu 14 hari korban sudah dipastikan meninggal dun. Jika dapat diselamatkan, maka kondisinya sudah tidak utuh. "Jenazah itu sudah sulit diidentifikasi, sudah rusak,” sebutnya.

Sedangkan pertimbangan lain dari penghentian pencarian, menurut Wilem, adalah kesehatan. Dia menjelaskan, setelah hari ke-14 terkubur di bawah reruntuhan, ada kekhawatiran justru bisa menebar bibit penyakit. “Kondisi itu akan membahayakan orang yang hidup," tegasnya.

Bertolak dari sejumlah pertimbangan itu, Willem meminta kepada pemda agar memfasilitasi dialog masyarakat dengan para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat.

"Mau diapakan dengan situasi seperti ini. Dari dialog itu nanti masyarakat akan mengusulkan keputusan kepada pemda. Dan pemda yang mengambil keputusan," pungkas mantan Komandan Satuan Ranjau Koarmatim TNI-AL itu.

Pernah disampaikan pula oleh Sutopo, Setelah tahap tanggap darurat, ada tahapan transisi menuju ke pemulihan. Selesai itu, kata Sutopo, tahapan masuk pada rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Dari tanggap darurat sampai transisi, BNPB akan melakukan penghitungan, termasuk menghitung jumlah kebutuhan. Kemudian dituangkan dalam RAN rehabilitasi dan rekonstruksi. Untuk tahapan ini, waktu bisa mencapai dua tahun,” tuturnya.

Kondisi Umum

Secara umum, kondisi sosial di Sulteng terus menunjukkan perbaikan. Hal itu disampaikan Ketua Sub Satgas Pendampingan Pusat Bencana Gempa Sulteng/Deputi Pertahanan Negara Laksdya A Jamaludin, di Jakarta.

Hingga Senin (8/10/2018), tercatat sebanyak 1.948 korban meninggal dunia. Korban yang sudah dimakamkan masal 885 jenazah. Sedangkan sisanya, sambung dia, diambil keluarga. “Tapi memang jumlah masih dinamis, karena evakuasi masih terus dilakukan,” katanya.

Terkait listrik, Jamaludin menjelaskan, kini sudah 90 persen yang berfungsi. “PLTD sudah berungsi baik, jg gardu induk. Dukungan itu untuk pada posko, perbankan, dan dumlap juga sudah baik,” tuturnya.

Namun, Jamaludin mengatakan, memang masih ada kendala terkait jaringan yang ke konsumen. Oleh karena itulah, kata dia, PLN masih melakukan pengecekan satu-satu ke rumah-rumah.

Untuk telekomunikasi, Jamaludin mengatakan, sudah hampir 100 persen pulih. Riciannya, di Donggala sekitar 52,2 persen dan di Palu sudah 56,6 persen.

“Sedangkan untuk BBM semakin hari semakin baik. Ada total 27 SPBU yang sudah dioperasikan. Sedangkan stok di depo Donggalan dan Palu juga masih mencukupi. Setiap hari ada suplai melalui Donggala,” katanya.

Ihwal air bersih, Jamaludin mengatakan, saat ini PDAM memang masih terkendala. Sehingga, kata dia, air air bersih cuma bisa diperoleh melalui mobil tanki PUPR. “Untuk kebutuhan itu pula, telah tersedia 30 hidran umum dan dalam waktu dekat akan ditambah lagi 20 hidran,” tuturnya.

Khusus untuk pelayanan medis, Jamaludin mengatakan, ada sebanyak 14 RSU yang telah beroperasi. Ada juga, sambung dia, satu rumah sakit terapung, yakni KRI dr Soeharso, yang sudah merapat dan melakukan kegiatan operasi.

“Selain itu juga dibuka RS lapangan di Pelabuhan Pantoloan. Kantor-kantor pemerintahan juga sudah mulai jalan, terutama Dukcapil, khususnya untuk pengurusan surat kematian,” katanya.

Sementara itu, kemarin, Ketua Sub Satgas Luar Negeri Pendampingan Pusat Bencana Gempa Sulteng Kemenko Polhukam Letjen TNI (Purn) Yoedhi Swastono mengatakan bahwa dilakukan pula uji coba Itu pendaratan pesawat A400 di Bandara Palu. Jika itu bisa dilakukan, sambung dia, maka akses ke kawasan Palu semakin terbuka baik untuk logistik maupun angkut penumpang.

Bantuan Asing

Sejauh ini, sejumlah negara telah merealisasikan tawarannya untuk memberikan bantuan bagi para korban bencana alam di Sulteng. Ketua Sub Satgas Luar Negeri Pendampingan Pusat Bennaca Gempa Sulteng Kemenko Polhukam Letjen TNI (Purn) Yoedhi Swastono membeberkan, yang sudah hadir atau tiba di Indonesia ada 10 negara. "Sedangkan dari NGO ada pada 5 Oktober dan 10 Oktober 2018,” latanya, kemarin.

Dijadwalkan pula, kemarin sore, bantuan dari Korea Selatan datang, tepatnya pada pukul 15.00 WIB. Dan pada petang harinya, sambung Yoedhi, terjadwalkan juga ada bantuan dari Prancis. “Bantuan dari Prancis itu berupa the large water sanitation yang diawaki oleh 44 orang. Rencananya besok akan langsung memberikan bantuan untuk mengatasi permasalahan air bersih,” katanya.

Dari ke-10 negara pemberi bantuan, menurut Yoedhi, tercatat adalah Singapura, India, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Jepang, Swiss, Amerika, Inggris, dan Qatar.

Sedangkan terkait bantuan hibah, Yoedhi mengatakan, untuk menampung bantuan dana dari negara sahabat sudah dibuka rekening khusus di BNPB. “Sedangkan untuk NGO dan swasta pribadi bantuan hibah masuk di rekening PMI,” katanya.

Tercatat sejauh ini, bantuan dari sembilan negara yang berkomitmen, di antaranya, dari Korea Selatan sebanyak 1 juta USD, Uni Eropa 1,5 juta Euro, dan Jerman sebesar 1,5 Euro. Selain itu ada pula bantuan dari Tiongkok, Venezuela, Vietnam, Australia, Laos dan Kamboja.

“Untuk menampung rekening bantuan asing tersebut, BNPB membuka dua rekening. Yakni, rekening BNPB untuk menampung mata uang dalam bentuk USD dan satu rekening lagi yang menampung bantuan dalam mata uang yang sudah dirupiahkan,” katanya.

Ihwal penggunaan dana bantuan hibah asing tersebut, Kepala BNPB Willem Rampangilei menegaskan, alokasi bukan hanya untuk kondisi darurat, tapi juga rehabilitasi rekonstruksi. “Tentunya penggunaan dilakukan dengan pendampingan,” katanya.

Seperti apa detil penjelasan pascadihentikannya pencarian koran dan evakuasi, pada Kamis (11/10/2018) mendatang? Dan apa saja yang akan dilakukan pemerintah di tahap transisi pemulihan hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruks? Semua akan dikupas dalam FMB 9 bertajuk "Update Bencana Sulteng: Setelah Evakuasi Dihentikan, Fokus pada Tahapan Transisi Pemulihan" yang digelar di Aula Graha, Gedung BNPB, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018), pukul 14.00 WIB, dengan menghadirkan narasumber Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).