5.000 Orang Masih Tertimbun

TANGGAL :
Rabu, 10 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
08:24:20
MEDIA :
Warta Kota

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VI

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Kepala Pusat Data. Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sutopo Purwo Nugroho mengungkap sulitnya proses evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban di wilayah Balaroa. Petobo, dan Jono Oge. Sulawesi Tengah, pascabenca-na gempa dan tsunami.
DI Petobo. terjadi proses likuefaksi (pencairan tanah) yang mengakibatkan 2.050 unit rumah rusak berat. Di area 180 hektar Itu. dikerahkan tujuh unit alat berat. Namun demikian, proses evakuasi sulit lantaran hampir seluruh area tertimbun lumpur yang sebagian besar sudah mengering.

"Di Petobo kondisinya berlumpur, lumpur banyak yang kering. Rumah-rumah banyak yang tidak terlihat karena tertutup lumpur, padahal di ba-

wahnya banyak rumah-rumah yang tertimbun." kata sutopo di kantor BNPB, Utan Kayu, Jakarta Timur. Selasa (9/10).

Sementara di Balaroa. terjadi proses pengangkatan dan penurunan tanah pada saat ben-, cana, sehingga mengakibatkan 1.471 unit rumah rusak berat. Pada area 47.8 hektar itu. dikerahkan 5 unit alat berat.

"Melihat kondisi di lapangan memang sulit. Yang separuh amblas 3 meter, yang separuh terangkat 2 meter," ujar sutopo . Sedangkan di Jono Oge. 4 desa terdampak parah dan 2 desa mengalami pergeseran. Diperkirakan, bangunan yang rusak mencapai 534 unit. Hingga saat ini. area seluas 202 hektar itu kondisinya masih berlumpur. Dibutuhkan 6 unit ekskava-tor amfibi untuk melakukan proses evakuasi. Namun demikian, hingga saat ini tim

SAR masih kesulitan mencadi ekskavator tersebut. "Kondisi di Desa Jono Oge tanah belum stabil. Sudah mulai ada tanah yang mengering, namun banyak bagian tanah yang masih sangat basah." kata sutopo .

Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla memastikan proses pencarian korban terdampak gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah akan dihentikan pada 11 Oktober 2018.

"Tanggap darurat Itu terdiri dari tahapan evakuasi, merawat yang luka-luka, dan juga melayani yang selamat. Tetap jalan ini, yang berhenti hanya evakuasi yang meninggal. Itu saja." ujarnya di Kantor Wapres.

Wapres mengatakan, penghentian pencarian pada 11 Oktober 2018 diputuskan karena peluang korban yang belum ditemukan untuk hidup sangat kecil setelah dua pekan benca na terjadi.