Pendidikan 186 Ribu Siswa Terganggu

TANGGAL :
Kamis, 11 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
07:07:17
MEDIA :
Republika

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Muhadjir Effendi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,Poppy Dewi Puspitawati, Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbud

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Jakarta - Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaporkan sekitar 186 ribu peserta didik terganggu layanan pendidikan pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Para peserta didik tersebar di 1.724 satuan pendidikan.
"Dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SM Kyang terganggu layanan pendidikannya di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Sigi," ujar Direktur Pendidikan Khsusus dan Layanan Khusus Kemendikbud poppy Dewi Puspitawati di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (10/10).

Sementara, Kemendikbud baru mencatat, sebanyak 59 siswa yang terdampak bencana dari semua jenjang pendidikan, termasuk sekolah luar biasa (SLB). poppy merinci, sebanyak 23 orang meninggal dunia, 35 orang hilang, dan satu orang mengalami luka berat per 8 Oktober 2018.

Selain itu, Kemendikbud mencatat, ada 22 orang guru meninggal dunia dan 14 orang hilang. "Kemungkinan, banyak siswa yang terseret tsunami saat mengikuti geladi resik festival Palu Nomoni dan ada Bibie Camp yang terhisap lumpur di Jono Oge, Kabupaten Sigi," ungkap dia.

poppy menambahkan, para siswa, guru, dan pegawai dinas pendidikan masih mengungsi di gunung dan keluar Sulawesi Tengah. Akan tetapi, ia mengaku, pendataan tersebut belum optimal karena terkendala komunikasi, terutama di Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Sejauh ini, para siswa dan siswi yang terdampak bencana memang sudah mengeluhkan tergangunya pendidikan mereka. Anak-anak korban gempa dan likuifaksi dari Desa Jono, Kabupaten Sigi, misalnya, meminta jadwal belajar pada kelas darurat di tenda Kemendikbud ditambah tidak hanya dua kali sepekan. "Sudah kemarin (8/10), bernyanyi sampai pukul lima sore. Nanti Jumat baru ada lagi," kata Jois Priscila, siswi kelas 6 SD BK Jono Oge di pengungsian Bukit Pombewe, Kabupaten Sigi, Sulteng, Selasa (9/10). .

Jois mengeluhkan sedikitnya jadwal aktivitas di bawah tenda putih milik Kemendikbud ini. Menurut Jois, Wahana Visi Indonesia (WVI) merupakan lembaga yang mengisi kelas darurat dengan mengajak anak bernyanyi dan menggambar pada Senin (8/10). Ia mengatakan, ingin kembali bisa belajar karena sudah lebih dari satu pekan tidak sekolah. Apalagi, dia akan segera menghadapi ujian akhir.

Murid kelas 1 SD Inpres Jono Oge, Diego Maradona (6), di tempat yang sama mengatakan, belum pernah melihat sekolah lagi setelah gempa dan likuifaksi terjadi dan mendengar dari kakaknya bahwa sekolah tempat dia menuntut ilmu telah rubuh sebagian. Diego mendengar dari guru olahraganya yang bernama Iwan yang sempat memberi informasi pada ibunya bahwa sekolah baru akan aktif sekitar satu bulan lagi.

Sementara, Cliff Bredley (10), siswa kelas 5 SD BK Jono Oge mengatakan, sempat bertemu dengan salah seorang guru dari sekolahnya dan mendapat informasi bahwa proses belajar dan mengajar baru akan dilaksanakan satu hingga tiga bulan ke depan. Menurut dia, kekosongan waktu belajar itu terlalu lama. Dia berharap, proses belajar dan mengajar bisa segera dilaksanakan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy juga meminta dinas pendidikan Kota Palu dan Kabupaten Donggala membangun sekolah darurat. Sehingga, siswa dapat melanjutkan pendidikannya meskipun kondisi masih belum pulih.

Pembangunan sekolah darurat pun dimintanya agar dilakukan menggunakan bahan material serta puing-puing bangunan yang ada. Sedangkan, atap bangunan akan dikirim dari Jakarta. "Saya sudah pesan kepada kepala dinas untuk membangun sekolah darurat tapi tidak dari tenda, tapi dari material yang ada di sana, termasuk puing-puing yang bisa digunakan," kata Muhadjir di Bogor.

Menurutnya, pemerintah daerah tak bisa mengandalkan kiriman bantuan tenda untuk fasilitas sekolah. Sebab, jumlah tenda yang ada tak cukup untuk kebutuhan di Palu dan Donggala lantaran sebelumnya telah digunakan untuk para pengungsi gempa di NTB. Ia menjelaskan, pembangunan sekolah darurat ini perlu segera dilakukan agar para siswa bisa kembali belajar.

"Jadi, langsung mereka harus belajar karena kalau terlalu lama tidak belajar untuk mengembalikan mental mereka kembali belajar dan bersekolah itu susah," kata dia.