Likuifaksi Di Palu Sudah Dipetakan Sejak 2012

TANGGAL :
Kamis, 11 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
07:13:52

MEDIA :
Indo Pos

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB,Poppy Dewi Puspitawati, Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbud

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, gempa susulan di Sulteng tercatat sebanyak 526 kali. Namun yang dirasakan masyarakat hanya 17 kali.
Kepala Pusat Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah korban meninggal yang berhasil dievakuasi pada Rabu (10/10/2018) bertambah, dari sehari sebelumnya 2.010 orang menjadi 2.045 orang. "Rinciannya dari Kota Palu sebanyak 1.636 orang, Donggala 171 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Seluruh jenazah sudah dimakamkan secara massal," ujar Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Rabu (10/10).

Sutopo menyebutkan, data dari tim survei BMKG menyebutkan, munculnya tsunami di Palu disebabkan adanya longsoran di bawah laut

Arahnya semakin signifikan ke pesisir Selatan Teluk Palu. Diperkirakan, tinggi gelombang tsunami mencapai 11,3 Meter di Desa Tondo, Palu Timur. Sedangkan tinggi gelombang tsunami terendah 2,2 Meter di Mapaga, Donggala.

"Landasan terjauh tsunami sepanjang 468,4 meter dari pantai, itu terjadi di kawasan Hotel Mercure, Lere, Palu Timur," beber Sutopo.

Tsunami Palu, menurut Sutopo tidak sebesar tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 lalu. Gempa dengan kekuatan 9,1 Skala Richter (SR) yang mengguncang Aceh telah menimbulkan gelombang tsunami setinggi 36 Meter. Dan, menurut Sutopo tsunarni Aceh disebut paling mematikan, karena menelan korban jiwa banyak.

"Tercatat data korban gempa dan tsunami Aceh mencapai 230 ribu orang tersebar di 14 negara. Di Aceh sendiri korban berjumlah lebih dari 160 ribu orang," kata Sutopo.

Sementara itu, data yang diterima oleh Kementerian Pendidikan hingga kemarin, sedikitnya 186 peserta didik di 1724 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMA mengalami gangguan layanan pendidikan, khususnya di tiga kabupaten Sigi, Kota Palu dan Donggala. Sementara 22 orang guru meninggal dan 14 orang lainnya dinyatakan hilang.

"Kemungkinan banyak siswa yang terseret tsunami saat mengikuti gladi resik festival Palu Nomoni dan ada Bible Camp yang ter-hisap lumpur di Jono Oge, Kabupaten Sigi," ujar Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan poppy Dewi Puspitawati.

Ia menyebutkan, jumlah sekolah terdampak di wilayah Pau, Donggala, Sigi dan Parigi Mountong sebanyak 422 unit. Dengan rincian, Palu dengan kerusakan berat sebanyak 35

unit, sedang 215 unit dan ringan 19 unit. Untuk wilayah Donggala kerusakan berat sebanyak 7 unit, sedang 12 unit dan ringan 12 unit. Untuk wilayah Sigi kerusakan berat sebanyak 41 unit, sedang 27 unit dan ringan 4 unit. Sementara untuk wilayah Parigi Mountong untuk kerusakan berat sebanyak 4 unit, sedang 2 unit dan ringan 44 unit. " Guru terdampak hingga mengungsi 41 orang dan 4 orang menjalani rawat inap," katanya.

poppy menuturkan, jumlah siswa terdampak untuk korban meninggal mencapai 23 orang dan hilang 35 orang. Ia menambahkan, untuk langkah darurat Kemdikbud mendirikan tenda darurat dengan kapasitas tujuh ruangan sebanyak 333 unit, tenda standar Unicef 1 ruang kelas di Petobo dan dua tenda darurat.

" Untuk pascabencana, kami kirim tim psikososial dan buku-buku cerita untuk trauma healing. Sementara untuk guru kami berikan bantuan tunai Rp 180 juta untuk 180 orang," katanya.

Selain bantuan tunai, masih ujar poppy Kemdikbud juga memberikan bantuan pelatihan pascabencana atau trauma konseling untuk guru, pelatihan guru hingga peningkatan kompetensi guru. "Bantuan tunai dari Kemdikbud untuk Palu sebesar Rp.246 miliar," ucapnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris Badan Geologi, Kementerian ESDM Antonius Purbo mengatakan, akan memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak yang akan melakukan rehabilitasi teknis dan rekontruksi pascabencana. Dalam tiga hingga empat minggu ke depan peta rekomendasi tersebut sudah selesai dirumuskan. " Salah satu kajian peta ini kami berikan rekomendasi titik-titik pengeboran air minum, yakni di 25 titik, kemudian tempat-tempat hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap (Huntap)," ujarnya.

Setelah dilanda bencana gempa dan tsunami, menurutnya wilayah Palu harus segera dilakukan adaptasi. Adaptasi tersebut misalnya saja, pembuatan bangunan yang mampu menahan gempa dengan kekuatan 8 SR. Kemudian untuk likuifaksi, seharusnya pemerintah belajar dari gempa Padang. "Kita bisa lakukan pemetaan wilayah-wilayah likuifaksi. Ini sudah dilakukan pada 2012 lalu seperti Padang, Mataram dan Palu dan beberapa kota lain di Indonesia, ini untuk mengetahui berapa besar dampak likuifaksi," katanya.

Ia menyebutkan, pada tahun 2012 pihaknya melihat ada 12 titik di Indonesia yang berpotensi likuifaksi. Kemudian tim melakukan pemetaan. Namun, dampak yang ditimbulkan oleh likuifaksi saat itu belum bisa diprediksi.

" Jadi seharusnya titik-titik yang berpotensi likuifaksi ya jangan ditempati. Saat ini kita tengah melakukan mikrozonasi, untuk melihat wilayah mana saja yang sangat rawan likuifaksi dan mana yang tidak," ujarnya.