Kota Palu Perpanjang Tanggap Darurat

TANGGAL :
Kamis, 11 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
07:25:26

MEDIA :
Republika

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Palu - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu memutuskan untuk melanjutkan masa tanggap darurat pasca-bencana gempa bumi, likuefaksi, dan tsunami. Pemkot Palu menyampaikan tetap melakukan pendataan dalam masa tanggap darurat.
Namun, Wakil Wali Kota Palu Sigit "Pasha" Purnomo mengakui, personel Pemkot Palu sangat kurang karena banyak pegawai pemerintah yang menjadi korban dan terdampak bencana. Pemkot Palu juga dapat memahami jika evakuasi korban akan dihentikan pada Kamis (11/10).

Sigit Purnomo mengatakan, ada tiga tahap dalam penanggulangan bencana. Pertama, tahap tanggap darurat dan evakuasi. Kondisi lapangan membuat upaya evakuasi sulit dilakukan secara maksimal.

"Khususnya di Petobo dan Balaroa yang kontur tanahnya lembek," kata Sigit di Kota Palu kepada Republika, Rabu (10/10). Ia menyampaikan, Pemkot Palu akan melakukan pendataan untuk mengetahui berapa banyak korban, rumah yang rusak, dan fasilitas apa saja yang harus diperbaiki.

Namun, Sigit mengakui, personel

Pemkot Palu tidak mencukupi. "Sampai saya turun sendiri kemarin karena tidak ada sopir. Saya turun juga bawa mobil. Kita tidak minta dipuji, ini memang darurat," ujar eks vokalis Hlm-8 grup Ungu ini.

Menurut Sigit, dalam kondisi seperti ini, siapa pun yang bisa bertindak maka bertindak segera. Dia mengatakan, tidak sedikit warga dari kabupaten sekitar mengungsi di wilayah Kota Palu. Mereka meminta tolong supaya ada yang membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ia juga menyampaikan, pencarian atau evakuasi korban gempa bumi dan likuefaksi akan dihentikan hari ini. Menurut dia, ada pihak yang memiliki kapasitas dan lebih bisa menilai tentang masa waktu evakuasi. Sebab, penghentian evakuasi pasti ada dasarnya.

Diperkirakan, sementara ini di dalam puing dan tanah memang masih ada korban gempa bumi dan likuefaksi. Namun, korban sudah 12 hari tertimbun puing dan tanah sejak terjadinya gempa bumi dan likuefaksi. "Kalau (korban) diangkat, bagaimana? Katanya ada cara tersendiri, tidak boleh sembarangan. Kalau kita tidak tahu cara itu, jangan sok ikut-ikutan," ujar dia.

Wakil Wali Kota Palu menambahkan, memang masih ada gempa, tetapi kekuatannya kecil. Pemkot Palu tetap berupaya memberikan motivasi dan penguatan kepada masyarakat Kota Palu.

Masyarakat jangan khawatir karena berdasarkan teori dari BMKG, gempa besar seperti yang terjadi pada Jumat (28/9) tidak akan lagi terulang.

Sementara, pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, pendataan kerugian dan kerusakan akibat bencana di Sulawesi Tengah masih terus dilakukan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho

mengatakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla menginstruksikan rehabilitasi dan rekonstruksi direncanakan mulai November 2018. "Rehabilitasi dan rekonstruksi dijadwalkan mulai awal November 2018," ujar dia di graha bnpb , Jakarta Timur, Rabu (10/10).

Ia mengatakan, saat ini tanggap darurat masih berlangsung, hanya evakuasi korban saja yang dihentikan pada Kamis. Sementara, layanan kebutuhan dasar bagi para pengungsi masih dilakukan. "Layanan kesehatan, distribusi logistik, layanan sekolah darurat, pembangunan hunian sementara, dan lainnya dilanjutkan hingga akhir Oktober 2018," tutur Sutopo.

Selain itu, ia juga menyampaikan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Palu, Pemerintah Daerah Sigi, dan Donggala. Koordinasi itu terkait lahan hunian sementara bagi korban yang kehilangan rumah.

Sutopo menambahkan, semua korban terdampak gempa, tsunami, dan likuefaksi setuju direlokasi. Namun, ia mengatakan, Pemprov Sulawesi Tengah meminta ada pernyataan tertulis agar tidak bermasalah di kemudian hari.

BNPB menyatakan, sejauh ini, jumlah korban meninggal terdampak bencana di Sulawesi Tengah mencapai 2.045 orang.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban terbanyak ditemukan di Kota Palu. "Dampak gempa dan tsunami sampai dengan Rabu, pukul 13.00 tadi, tercatat 2.045 orang meninggal dunia, terdiri atas Kota Palu 1.636 orang," ujar dia di graha bnpb , Jakarta Timur, Rabu.

Sutopo memerinci, sebaran korban meninggal dunia itu di empat wilayah Sulawesi Tengah dan satu wilayah di Sulawesi Barat. Ia menyebutkan, korban di Kota Palu sebanyak 1.636 orang, Donggala 171 orang, Sigi 222 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu (Sulawesi Barat) 1 orang.

Ia juga mengatakan, seluruh korban itu telah dimakamkan, baik secara massal maupun dimakamkan keluarga masing-masing. "Pemakaman massal 969 jenazah, pemakaman keluarga 1.076 jenazah," kata Sutopo.

BNPB mencatat korban luka berat mencapai 2.549 orang dan 8.130 orang mengalami luka ringan. Pengungsi terdampak gempa, tsunami, dan likuefaksi sebanyak 82.775 orang. Terdiri atas 74.044 pengungsi yang berada di 112 titik di Sulawesi Tengah dan 8.731 orang di luar Sulteng.

"Mereka keluar Sulteng, seperti Makassar, Jakarta, Balikpapan, Gorontalo, Manado, bahkan saya menerima laporan sampai ke Jawa Timur," tutur Sutopo.