Rilis 1: Hari Terakhir Evakuasi: Korban Meninggal 2.085, Rumah Rusak 67.310, dan 5 Lokasi Jadi Alternatif Relokasi

TANGGAL :
Kamis, 11 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
13:24:18
MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VIII

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


JAKARTA – Setelah berlangsung selama hampir tiga pekan, pemerintah memutuskan bahwa hari ini menjadi batas waktu dilakukannya pencarian dan evakuasi para korban bencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Data terkini terkait pelaksanaan tanggap darurat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, yang diperoleh dari pos terdepan hingga pukul 19.10, menyebutkan bahwa sepanjang Rabu (10/10/2018) telah dilakukan evakuasi terhadap korban tertimbun sebanyak 28 orang. Temuan itu, menggenapkan catatan jumlah total korban meninggal akibat bencana yang terjadi pada Jumat (28/9/2018) menjadi 2.065 orang.
Setelah dievakuasi, para korban tersebut langsung dimakamkan di pemakaman massal dan pemakaman keluarga. Adapun rinciannya adalah di pemakaman massal Paboya sebanyak 924, Pantoloan 35, Donggala 35, dan di pemakaman keluarga 1.071 jenazah.Data terkini soal korban juga menunjuk angka korban luka total 4.612, korban hilang sesuai laporan keluarga sebanyak 680, dan korban diperkirakan tertimbun sebanyak 152. Sedangkan jumlah total rumah rusak yang sudah terdata sebanyak 67.310 unit.

Kondisi terkini juga menunjukkan bahwa Pasar Inpres dan Pasar Masomba sudah beroperasi. Sehingga, masyarakat sudah dapat melakukan pembelian kebutuhan sehari hari di pasar tersebut. Pemilik toko juga diharapkan agar segera membuka tokonya, dan untuk aktivitas itu jajaran TNI dan Polri memberikan jaminan keamanan.

Distribusi BBM juga sudah mulai normal dan stok BBM pun terjamin. Sedangkan pemulihan jaringan listrik diupayakan secepatnya normal. Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menyampaikan bahwa pemerintah akan terus bersama masyarakat. Pemerintah berusaha, kata dia, untuk mempercepat pemulihan kondisi masyarakat.

“Bagi masyarakat yang tempat tinggalnya hancur atau hilang akan dibangunkan hunian sementara. Tujuannya untuk memberikan jaminan kelangsungan kehidupannya dan selanjutnya akan dibangun hunian tetap di tempat yang sementara sedang diusahakan dan dilakukan kajiannya. Saya yakin, Sulawesi Tengah segera bangkit,” katanya.

*Relokasi Warga*

Dari penghitungan terkini, juga diketahui jumlah masyarakat mengungsi sebanyak 78.994 orang. Data pengungsi itu penting karena akan menjadi bahan kebijakan selanjutnya setelah tanggap darurat. Baik dalam pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap), maupun terkait kebutuhan pengungsi kedepan.

Terkait relokasi warga, ada sejumlah kriteria yang dikedepankan dalam pemilihan alternatif lokasi. Antara lain, adalah bebas dari ancaman bahaya (baik patahan aktif, likuifaksi, longsor, tsunami, banjir, dan mikrozonasi tinggi gempa bumi), bukan sempadan pantai, sempadan sungai, tidak berada di kawasan lindung atau kawasan lain dengan kelerengan lebih dari 15%, memiliki akses yang cukup baik ke sumber air, serta penguasaan tanah Hak Guna Usaha (HGU) atau Hak Guna Bangunan (HGB) telah habis. Hasil identifikasi sementara menghasilkan lima lokasi alternatif yang tersebar di tiga kecamatan. Yaitu, satu lokasi seluas 79,30 hektare di Kecamatan Palu Barat, dua lokasi di Kecamatan Sigi Biromaru seluas 200 hektare dan 217 hektare, serta dua lokasi di Kecamatan Palu Timur seluas 57 hektare dan 99,63 hektare.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pemerintah No.21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, Pemerintah Daerah dalam menyusun rencana rekonstruksinya wajib memperhatikan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebagai salah satu bentuk membangun lebih baik. Oleh karena itu, dalam kunjungan lapangan ini, tim bertemu dengan Gubernur Sulawesi Tengah untuk memastikan dukungan pemerintah daerah pada saat proses relokasi dan selanjutnya dalam tahap penyusunan revisi RTRW Provinsi Sulawesi Tengah serta revisi RTRW tiga kabupaten/kota yang terkena dampak bencana.

*Pantau Korban Anak dan Perempuan*

Dalam pertemuan dengan sejumlah korban gempa di Sulteng, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menegaskan bahwa masyarakat harus tetap waspada terhadap potensi kekerasan seksual yang dapat terjadi kepada perempuan dan anak. “Pada saat situasi pascabencana alam seperti ini memang kita berjuang dengan berbagai keterbatasan. Tapi, para perempuan dan anak-anakku di sini harus waspada agar terhindar dari kekerasan yang mungkin akan terjadi. Jangan takut untuk melapor kepada pihak-pihak yang melindungi di sini,” tegasnya.

Selain kekerasan seksual, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) juga mengimbau seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam proses pemulihan masyarakat dan daerah Palu dan Donggala untuk melindungi perempuan dan anak dari ancaman perdagangan orang atau adopsi ilegal. “Banyak anak yang terpisah dari orang tuanya, saya meminta kepada seluruh pihak yang terlibat untuk mendata dan mengusahakan menemukan keluarganya, minimal keluarga besarnya, anak-anak ini jangan sampai dibawa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab” tandasnya.

Lantaran itulah, Kementerian PPPA mengupayakan pos ramah perempuan dan anak yang diharapkan dapat berguna untuk mencegah dan mengurangi potensi terjadinya kekerasan baik fisik, psikis, dan seksual, serta perdagangan orang terhadap perempuan dan anak.

Bagaimana secara detil penanganan dampak bencana di Sulteng pascapenghentian evakuasi korban? Apa saja yang menjadi fokus di tahap transisi pemulihan ini? Semua akan dikupas tuntas dalam diskusi media FMB 9 yang digelar di Aula Graha BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018), pukul 13.00 WIB, dengan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Kemendagri, Kementerian PPPA, ANRI, dan ditutup dengan penjelasan Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).