Dilema Mereka Yang Kehilangan

TANGGAL :
Jum'at, 12 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
07:59:00
MEDIA :
Republika

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VIII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


Dua pekan selepas gempa besar melanda Sulawesi Tengah, banyak warga Kelurahan Balaroa, Kota Palu, masih tak mengetahui keberadaan anggota keluarga mereka. Penghentian proses evakuasi yang diputuskan pemerintah kemudian menimbulkan dilema tersendiri buat mereka.
Mereka masih mengharapkan pencarian korban terus dilanjutkan, tetapi kondisinya sudah tidak memungkinkan. Bahkan, tidak sedikit korban yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh lagi.

Mutmainah (50 tahun), seorang warga Perumnas Balaroa, menceritakan, rumahnya sudah rata dengan anah di Balaroa sehingga tidak ada yang tersisa lagi. Bahkan, sampai proses evakuasi dihentikan, anggota keluarga yang hilang belum bisa ditemukan.

"Suami dan anak-anak selamat dari gempa, tapi dua cucu hilang. Sampai sekarang belum ditemukan," kata Mutmainah saat ditemui Republika di tenda pengungsian warga Balaroa, Kamis 111/10).

Ia menyampaikan, dua cucunya baru berusia tujuh tahun. Semuanya laki-laki. Sebenarnya dia masih ingin

proses pencarian korban dilanjutkan. Namun, ia juga menyadari keadaannya memang tak memungkinkan jika pencarian korban terus dilanjutkan.

Mutmainah berharap area tempat terjadinya gempa bumi dan likuefaksi dijadikan sebagai monumen. Supaya korban-korban yang tertimbun puing dan tanah bisa dikenang. Sebab menurutnya masih ada ribuan korban yang tertimbun puing dan tanah.

Warga Balaroa lainnya, Mona |30), mengungkapkan kepasrahannya. Dia mengatakan, kalau pemerintah sudah memutuskan untuk menghentikan proses evakuasi korban, masyarakat bisa berbuat apa lagi? Sampai sekarang Mona tidak tahu posisi rumahnya ada di mana sebab lokasinya berpindah saat terjadi likuifaksi.

Ia menyampaikan, kedua anaknya yang hilang berusia tujuh tahun dan tiga tahun. Mereka semua laki-laki, sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya. "Anggota keluarga

yang hilang tidak tahu ada di mana, suami saya, ayah saya, dan dua anak saya belum ditemukan," ujarnya.

Mutmainah dan Mona mengaku sudah cukup mendapat bantuan makanan dan pakaian. Namun, mereka berharap segera dapat dipindahkan ke rumah yang lebih layak. "Harapannya ingin rumah untuk tempat bernaung karena kita mau pergi ke mana lagi?" ujarnya.

Irjam yang juga warga Balaroa mengaku gamang saat mendengar evakuasi korban gempa bumi dan likuifaksi dihentikan. Kalau evakuasi dilanjutkan, khawatir evakuator terancam kesehatannya dan terjangkit penyakit. Namun, jika evakuasi dihentikan, masih banyak warga yang anggota keluarganya tertimbun puing dan tanah. "Berat untuk menentukan, evakuasi dilanjutkan atau dihentikan," ujarnya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana IBNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, belum dapat memastikan jumlah korban meninggal atau hilang akibat likuifaksi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah.

Menurut dia, berdasarkan informasi dari kepala desa, diperkirakan 5.000 orang tertimbun di Kelurahan Petobo dan Balaroa.

"Belum ada perkembangannya, begitu lurah itu ditanya detail masih belum tahu, hanya katanya dan kemungkinan," ujar Sutopo di graha bnpb . Jakarta Timur, Kamis I11/10).

Sebelumnya, ia mengatakan, angka tersebut berasal dari laporan kepala desa di Balaroa dan Petobo. Kendati demikian, BNPB masih perlu melakukan verifikasi dan konfirmasi data korban untuk menentukan angka yang valid. Sehingga, perkiraan jumlah 5.000 itu tidak bisa diinput ke dalam jumlah korban terdampak bencana di Sulteng.

Sutopo mengakui, tim di lapangan sangat sulit mendapatkan angka yang pasti. Sebab, likuefaksi membuat tanah berubah menjadi lumpur pascagempa. Alhasil, bangunan di atasnya terseret bahkan ambles.

Berdasarkan data BNPB. luas area likuifaksi di wilayah Balaroa mencapai 47,8 hektare (ha). Di luasan wilayah itu, BNPB memperkirakan ada 1.471 unit bangunan rusak. Di Petobo, luas area terdampak sekitar 180 ha dengan sedikitnya 2.050 unit bangunan rusak. Sementara di Desa Jono Oge di Kabupaten Sigi luas area yang mengalami likuifaksi mencapai 202 ha. Sutopo juga menambahkan, likuifaksi juga terjadi di Mpano, Sidera, Lolu. dan Biromaru di Sigi.