Pemerintah Berfokus Sediakan Hunian untuk Pengungsi

TANGGAL :
Jum'at, 12 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
08:02:34

MEDIA :
Koran Tempo

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VIII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Jakarta - Pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat bencana akibat gempa dan tsunami hingga 26 Oktober mendatang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan keputusan ini diambil untuk menyelesaikan permasalahan pengungsi dan pembersihan puing bangunan.
Sutopo mengatakan pemerintah masih perlu berfokus memperbaiki sarana dan prasarana, serta tempat hunian bagi para pengungsi. "Diperlukan kemudahan akses agar penanganan dapat cepat dilakukan dengan memperpanjang masa tanggap darurat," ujar Sutopo di graha bnpb , Jakarta, kemarin. Menurut dia, perpanjangan pencarian korban dilakukan demi

memenuhi keinginan sebagian warga korban bencana.

Hingga kemarin, BNPB mencatat setidaknya 2.073 orang meninggal akibat gempa berkekuatan 7,4 skala Richter ini. Korban meninggal terbanyak, 1.663 orang, berada di Kota Palu. Berikutnya sebanyak 171 orang meninggal di Kabupaten Donggala, 223 orang meninggal di Kabupaten Sigi, dan 15 orang

meninggal di Kabupaten Parigi Moutong. Sebanyak 680 orang masih dinyatakan hilang.

Gempa dan tsunami ini juga mengakibatkan lebih dari 67 ribu rumah rusak dan 87 ribu orang harus tinggal di pengungsian. Sebagian dari mereka mengungsi ke luar wilayah Sulawesi Tengah. Menurut Sutopo, jumlah ini berpotensi terus bertambah. "Belum semua

titik terdata, terutama di Donggala dan Sigi," ujar dia.

Meski Kota Palu mulai bergeliat, sejumlah pengungsi masih mengeluhkan minimnya bantuan beras dan logistik lainnya. Seperti di Posko Pengungsian Balaroa, Rosmiar, 35 tahun, mengaku hanya memperoleh delapan liter beras untuk delapan keluarga yang berjumlah 30 orang. "Itu pun tidak

setiap hari kami terima," ujarnya. Menurut dia, bantuan beras paling seret.

KepalaBadanPenanggu-langan Bencana Daerah Kota Palu, Presley Tampubolon, mengatakan beras cadangan pemerintah yang tersimpan di gudang Bulog sudah habis. "Kami sedang mengajukan penambahan kuota," kata dia.