Evakuasi Usai, Lokasi Likuefaksi Ditutup

TANGGAL :
Jum'at, 12 Oktober 2018

JAM NAIK BERITA :
08:06:04

MEDIA :
Republika

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB,Dwi Adi Wibowo, Komandan Tim Lima Basarnas di Balaroa,Chandra Kresna, Safety Officer Tim SAR Gabungan di Petobo,Bambang Suryo, Direktur Operasi Basarnas

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VIII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Palu - Proses evakuasi korban gempa bumi di Sulawesi Tengah diperpanjang sehari hingga Jumat (12/10) sore ini. Nantinya setelah proses evakuasi selesai dilaksanakan, wilayah yang terdampak likuefaksi di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah akan ditutup untuk umum.
Di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, penghentian proses evakuasi tetap dilakukan meski diperkirakan masih ada ratusan korban yang tertimbun puing dan material tanah di Balaroa.

Komandan Tim Lima Basarnas di Balaroa, Dwi Adi Wibowo, mengatakan, proses evakuasi sudah dilakukan selama 14 hari di lokasi terdampak likuefaksi tersebut. Sementara, korban yang sudah dievakuasi jumlahnya mencapai sekitar 300 jenazah.

Basarnas juga mengingatkan agar masyarakat tidak memasuki wilayah yang terdampak bencana di Balaroa. Dia menegaskan, wilayah Balaroa atau wilayah bencana tertutup untuk umum.

"Wilayah musibah tidak diperbolehkan lagi untuk

dihuni. (Sebab) apabila terjadi bencana alam susulan, bisa ada korban lagi," kata Dwi kepada Republika di Balaroa, Kamis (11/10).

Ia menerangkan, banyak sekali cairan dari jenazah korban yang tergali. Air yang ada di wilayah bencana itu juga telah tercemar oleh jenazah yang mulai membusuk. Kemungkinan besar banyak bakteri yang bisa menimbulkan penyakit.

Kalau evakuasi tetap dilanjutkan, dia menjelaskan, jenazah yang ditemukan juga sudah tidak dalam kondisi

utuh. Sekarang banyak korban yang ditemukan dalam kondisi tulang belulang saja. "Basarnas sekali lagi mengingatkan agar masyarakat tidak memasuki wilayah yang terdampak gempa bumi dan likuefaksi. Apabila terjadi gempa berikutnya, ini tanah masih labil, kemungkinan bisa longsor kembali," ujarnya.

Ia juga menyampaikan, pada Kamis (11/10), pihaknya mengerahkan enam ekskavator untuk melakukan evakuasi. Sampai kemarin siang sebanyak tujuh jenazah ditemukan, tapi

kondisinya sudah tidak utuh. Terkait luas wilayah yang ter-dampak likuefaksi di Balaroa, menurut warga sekitar, luasnya sampai sekitar 5 hektare.

Dwi mengatakan, setelah proses evakuasi dihentikan, selanjutnya diserahkan ke Pemerintah Kota Palu. Nantinya bergantung pada keputusan pemerintah setempat akan dibuat seperti apa wilayah bencana di Balaroa ini.

Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan, sekitar 5.000 orang tertimbun di wilayah-wilayah yang terdampak likuefaksi selepas gempa 7,4 skala Richter mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 September lalu.

Area terdampak pengangkatan dan amblesan di Balaroa (Kota Palu) tercatat seluas 47,8 hektare. Sementara di Petobo (Kota Palu), luas area terdampak likuefaksi mencapai 180 hektare dengan kerusakan bangunan sebanyak 2.050 unit.

Kemudian di Jono Oge (Sigi), luas area yang terdampak likuefaksi mencapai 202 hektare. Sedangkan, dampak likuefaksi di wilayah lain, seperti Lolu, Sidera, dan Mpane belum diketahui.

Proses evakuasi korban gempa bumi dan likuefaksi di Kelurahan Petobo juga dihentikan pada Kamis (11/10).

"Sementara masih mengikuti instruksi dari posko utama kami bahwa ini hari terakhir tim Ba-sarnas dan SAR gabungan melakukan proses evakuasi," kata Safety Officer Tim SAR Gabungan di Petobo, Chandra Kresna, kepada Republika, Kamis (11/10).

Chandra mengatakan, tim SAR gabungan sudah mengevakuasi 180 jenazah dari wilayah Petobo. Sementara, sisa korban yang masih tertimbun di bawah puing dan tanah belum dapat diprediksi karena luasnya area evakuasi di Petobo.

Ia mengungkapkan, ada kendala saat melaksanakan proses evakuasi, salah satunya kendala

cuaca. Jika terjadi hujan, evakuasi harus dihentikan sementara karena alasan faktor keselamatan. "Hari ini kami berhasil mengevakuasi lima korban. Hari terakhir ini korban kami temukan dalam kondisi lengkap, satu tidak dikenal, apakah itu laki-laki atau perempuan," ujarnya.

Chandra menginformasikan, di wilayah evakuasi masih bayak material berbahaya, seperti atap seng dan material-material lainnya yang tajam. Bahkan, kemungkinan banyak bakteri dan zat kimia lain yang bisa membahayakan masyarakat. Jika masyarakat masuk area evakuasi tanpa alat perlindungan diri yang cukup, akan sangat berbahaya.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, evakuasi korban akan berakhir pada Jumat (12/10) sore. Tenggat waktu itu diperpanjang satu hari dari yang sebelumnya disepakati, yakni pada Kamis (11/10).

"Pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban akan berakhir pada Jumat (12/10) secara resmi," kata Sutopo di graha bnpb , Jakarta Timur, Kamis (11/10). Menurut dia, evakuasi korban diperpanjang karena masih ada beberapa anggota masyarakat yang meminta evakuasi dilakukan.

Kendati demikian, Sutopo menekankan, evakuasi korban itu harus benar-benar dihentikan pada esok hari.

"Disepakati evakuasi harus sudah dihentikan karena pertimbangan-pertimbangan medis, psikologi, dan agama. Besok sudah betul-betul harus berhenti," kata Sutopo.

Ia mengatakan, masa tanggap darurat bencana di Sulawesi Tengah juga diperpanjang hingga 14 hari mendatang. Hal itu karena masih ada sejumlah masalah yang belum diselesaikan. Masalah itu, antara lain, peme-

nuhan kebutuhan dasar pengungsi, perbaikan sarana dan prasarana, pembangunan hunian sementara, penanganan medis, perlindungan sosial, dan pembersihan puing bangunan.

Menurut dia, masa tanggap darurat diperlukan guna mendapatkan kemudahan akses agar penanganan bencana dapat dilakukan dengan cepat. "Diperlukan kemudahan akses agar penanganan dapat cepat dilakukan sehingga masa tanggap darurat bencana perlu diperpanjang," kata Sutopo.

Hingga Kamis (11/10), BNPB melaporkan jumlah korban meninggal terdampak bencana di Sulawesi Tengah mencapai 2.073 orang. Korban luka berat mencapai 2.549 orang dan 8.130 orang mengalami luka ringan.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo menyampaikan bahwa Basarnas akan menyerahkan tugas kepada Basarnas wilayah Kota Palu selepas berakhirnya masa evakuasi. "Kami tetap menyiap-siagakan personel Basarnas dari kantor Palu untuk melakukan asistensi. Dan bila mendapatkan laporan (korban) dari masyarakat, mereka akan melakukan evakuasi," kata dia.

Ia mengungkapkan, selama melakukan operasi evakuasi, medan terberat terkonsentrasi pada lokasi-lokasi terdampak, seperti Petobo, Balaroa, dan Jono Oge. Hingga kini di tiga lokasi gempa itu juga masih labil sehingga bila tak hati-hati akan membuat petugas terperosok. Demikian pula di Petobo yang memunculkan gundukan lumpur di atas ketinggian orang dewasa.

Hal itu membuat personel Basarnas kesulitan untuk melakukan evakuasi meskipun dengan menggunakan alat berat amfibi. Sementara, estimasi untuk menyisir lokasi terdampak membutuhkan waktu sekitar lima bulan.