BNPB: Terima Kasih Ingin Bantu Masyarakat Sulteng Yang Kena Bencana, Tapi Selalu Ada Aturan Main

TANGGAL :
Jum'at, 12 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
12:53:57
MEDIA :
Tribunnews.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi & Humas BNPB

TONE :
Pro

TOPIC :
Update Tanggap Bencana Sulteng Sesi VIII

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

LINK ORIGINAL :

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menegaskan, terdapat aturan dalam bantuan untuk korban bencana di Indonesia.
Termasuk, bantuan dari lembaga atau relawan asing. Pemerintah mendapat kritikan setelah membatasi bantuan dan relawan asing.

“Ya kita terima kasih atas keinginan membantu masyarakat di Sulteng yang terkena bencana, tapi dalam bantuan tadi selalu ada aturan mainnya. Bukan hanya di Indonesia, di negara lain juga diberlakukan seperti itu,” tutur Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, segala bantuan tersebut harus dikoordinasikan dengan pihak yang berwenang agar pemanfaatannya efektif.

"Kami tidak ingin berakhir pada situasi di mana Indonesia menerima bantuan yang sebenarnya ketersediaannya dan kapasitas di lapangan sudah memadai," jelas Sutopo Purwo Nugroho.

Bantuan yang diberikan pun dibatasi oleh pemerintah. Pemerintah hanya menerima bantuan berupa transportasi udara, genset, tenda, dan water treatment.

Sebelumnya, tim SAR dan tenaga kemanusiaan dari luar negeri dilaporkan kecewa dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang membatasi bantuan dan relawan asing masuk ke wilayah bencana di Palu, Sulawesi Tengah.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (9/10/2018), sejumlah relawan asing mengaku terkejut dan bingung ketika diminta pulang oleh otoritas lokal.

Tim Costello, ketua advokasi untuk organisasi sukarelawan World Vision, menyebut pengumuman pemerintah Indonesia sangat aneh. Dirinya menilai kebijakan itu menyulitkan relawan asing membantu para pekerja dan sukarelawan dari Indonesia.

"Wartawan asing bebas untuk berkeliling dan meliput, sementara tenaga kemanusiaan asing yang membawa pengalaman dan bantuan kepada staf lokal untuk penanganan trauma usai tsunami tidak," kritiknya kepada ABC.