Rilis 3 : 4 Tahun Jokowi-JK, Menhan Ryamizard: Kekuatan Alutsista Indonesia 10 Besar Dunia

TANGGAL :
Kamis, 25 Oktober 2018
JAM NAIK BERITA :
15:13:10
MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
4 Tahun Jokowi-JK Sesi 5

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

FILE ORIGINAL :


JAKARTA – Pemenuhan kebutuhan pokok minimum TNI hingga 2018 telah mencapai angka 61,8 persen. Seiring itulah, tercatat bahwa kekuatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia berada di peringkat 10 besar dunia.
Demikian disampaikan Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamzard Ryacudu, dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 Edisi 4 Tahun Kerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan tema "Peningkatan Stabilitas Politik dan Keamanan, Penegakkan Hukum, dan Tata Kelola", bertempat di Auditorium Gedung 3 Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (25/10/2018).

“Negara hadir untuk melindungi bangsa dan memberikan rasa aman kepada warga negara lewat kehadiran TNI yang professional dengan dukungan alutsista serta komponen cadangan dan komponen pendukung, termasuk veteran dan kader bela negara,” katanya.

Dalam menghadapi potensi ancaman nonfisik terhadap ideologi negara, Pancasila, Menhan mengatakan, diperlukan konsep pembangunan main set seluruh rakyat Indonesia, berupa penanaman wawasan kebangsaan, sebagai bagian dari dari konsep pertahanan rakyat semesta.

“Yang mana itu melibatkan seluruh komponen pertahanan. Termasuk pembangunan kekuatan TNI, sebagai komponen utama,” katanya.

Terkait itulah, Menhan memaparkan, bahwa untuk alutsista terjadi peningkatan pemenuhan sejak 2015-2018. “Jika pada 2015 pemenuhan di prosentase 33,90 persen, pada 2018 penemuhan meningkat hingga prosentase 61,8 persen. Dan sekarang, kekuatan alutsista Indonesia telah berada di urutan ke-10 dunia,” katanya.

Mendukung profesionalisme TNI, Menhan mengatakan, telah dibangun pula sebanyak 241.411 rumah prajurit atau sebanyak 46,7 persen dari total kebutuhan yang ada. Sedangkan jumlah kader bela negara, sambung dia, pada 2018 telah mencapai jumlah 83,4 juta kader.

“Secara keseluruhan, profesionalitas TNI yang kuat sebagai alat pertahanan negara akan ditujukan untuk mendorong simpati dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Kemenhan sendiri, menurut Menhan, membedakan ancaman berdasarkan kondisi faktual dengan ancaman yang belum nyata dan nyata.

Dimana, Menhan mengatakan, ancaman yang belum nyata, di antaranya, adalah peperangan. Sedangkan yang nyata, kata dia, adalah terorisme, bencana alam, perbatasan, siber, wabah penyakit, dan narkoba.

Bencana alam dan teroris, Menhan mengatakan, sudah terjadi berulang-ulang sejak 4 thun lalu. Sejalan dengan ancaman tersebut, kata dia, direktif disain strategis pertahanan negara Indonesia diarahkan untuk mewujudkan keamanan nasional, yang kondusif bagi stabilitas regional dan global.

Strategi Pertahanan

Bertolak dari ancaman tersebut, Menhan pun menjelaskan, direktif disain strategis pertahanan negara Indonesia diarahkan untuk mewujudkan keamanan nasional, yang kondusif bagi stabilitas regional dan global.

“Strategi pertahanan yang dikedepankan adalah smart power, yang merupakan kombinasi dari pembangunan kekuatan hard power dan soft power,” katanya.

Hard power, menurut Menhan, kekuatan rakyat dan TNI beserta alutsistanya. Dan soft power, sambung dia, yaitu kekuatan main set dan diplomasi pertahanan di kawasan, kekuatan idealism dan hati nurani budaya bangsa.

“Ini terbukti efektif dan tepat sasaran, sehingga kita semua bisa merasakan betapa dalam empat tahun ini kita merasa aman, tenteram, dan damai. Dalam hal ini kehuidupan bertetangga dapat dijaga dengan baik, baik di kawasan ASEAN dan di luar ASEAN,” katanya