Rilis 1: Membangun Indonesia Dalam Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah

TANGGAL :
Kamis, 22 November 2018

JAM NAIK BERITA :
08:29:17

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Peningkatan Daya Saing Daerah

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


SURABAYA - Aspek ekonomi di Jawa Timur sejatinya jauh dari kondisi yang mengkhawatirkan. Dalam lima tahun terakhir tercatat, pertumbuhan ekonomi selalu berada lebih dari 5%.
Pada 2012, saat angka pertumbuhan ekonomi nasional mencatatkan pertumbuhan 6,23%, Propinsi Jawa Timur sanggup membukukan catatan hingga 6,64%. Ini artinya, sepanjang setengah dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Jawa Timur selalu di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih jauh menurut catatan BPS, Ekonomi di Jawa Timur, pada triwulan I-2018 bila dibandingkan triwulan I-2017 tumbuh sebesar 5,50 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,37 persen.

Pertumbuhan pada triwulan II 2018 mencapai 5,6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang tercatat sebesar 5,3% (yoy) dan meningkat dibandingkan triwulan I 2018 yang tumbuh 5,5% (yoy). Agaknya bisa dipastikan, akhir 2018, catatan pertumbuhan ekonomi Propinsi Jawa Timur kembali di atas rata-rata pertumbuhan nasional.

Ada tiga sektor ekonomi utama yang mendukung Propinsi Jawa Timur, yaitu sektor industri pengolahan 29%, sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor sebesar 18%, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan 13%.

Dari tahun ke tahun, sektor industri mengalami tren peningkatan dengan pertumbuhan di atas 5% untuk lima tahun terakhir. Bahkan pada 2017, sektor ini sanggup tumbuh hingga 5,69%, lebih tinggi dari tahun lalu.

Inflasi triwulan II 2018 berada pada angka 2,67% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (3,16%, yoy) maupun inflasi nasional (3,12%, yoy). Angka inflasi ini merupakan capaian terendah dalam 10 tahun terakhir.

Rendahnya capaian inflasi tersebut dikontribusi oleh relatif terkendalinya inflasi kelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, serta transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Jika dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa, inflasi Jawa Timur pada triwulan II 2018 adalah terendah.

Capaian yang baik juga tercatat dari sektor perpajakan. Roda perekonomian yang baik juga tercermin pada penerimaan pajaknya. Pada 2017, realisasi pajak meningkat jauh di atas target yang telah ditetapkan. Realisasi mencapai Rp14,35 triliun, sedangkan target yang ditetapkan sebesar Rp12,98 triliun. Ini berarti lebih tinggi 10,6%. Boleh dicatat di sini, selama empat tahun terakhir kenaikan realisasi pajak di Jawa Timur mencapai 52,7%. Penerimaan Pajak Daerah di Jawa Timur mencapai 84% dari PAD (Pajak Asli Daerah).

Kemiskinan Turun Konsisten

Bicara prosentase kemiskinan, di Jawa Timur, trennya cenderung turun konsisten. Data BPS Jatim sepanjang 2011 hingga 2018 menunjukkan, pada Maret 2011 di prosentase kemiskinan di angka 14.27, kemudian Maret 2012 (13.40), Maret 2013 (12.55), Maret 2014 (12.42), lalu Maret 2015 (12.34), Maret 2016 (11.85), Maret 2017 (11.77), dan Maret 2018 di angka 10.98. Kecenderungan serupa juga tampak pada penghitungan prosentase kemiskinan tiap September year on year.

Indeks IPM di Jawa Timur pada 2017 terus mengalami kemajuan. Pada 2016 IPM mencapai 69,74 dan selanjutnya pada 2017 mencapai 70,27 atau tumbuh 0,76%. Merujuk data BPS, IPM Jawa Timur secara kontinyu mengalami kemajuan selama periode 2011- 2017. Dari 66,06 di 2011 meningkat menjadi 70,27 di 2017. Selama periode tersebut tumbuh 6,4%. Rata-rata pertumbuhan sebesar 1,04% per tahun.

Walhasil, pada 2017 indeks pembangunan manusia di Jawa Timur naik kembali hingga berkategori “tinggi”, naik kelas dari kategori sebelumnya “sedang”. Di antara daerah-daerah di Jawa Timur, IPM tertinggi dicatat oleh Surabaya dengan IPM sebesar 81,07, sedangkan IPM terendah dicatat oleh Sampang (59,90).
Sedangkan pencapaian indeks IPM sendiri diukur dengan memperhatikan tiga aspek esensial yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Oleh karena itu, peningkatan capaian IPM tidak terlepas dari peningkatan setiap komponennya tersebut.

Kondisi perekonomian di Jatim yang menunjukkan sejumlah aspek yang menggembirakan itu tentunya harus terus dikelola dengan baik. Termasuk, dalam upaya menumbuhkan daya saing. Terkait itulah, dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Membangun Indonesia Dalam Perpektif Peningkatan Daya Saing Daerah", bertempat di Ruang Rapat Hayam Wuruk Lantai 8, Kantor Sekda Pemprov Jatim, Surabaya, Kamis (22/11/2018) dibahas secara lengkap berbagai kebijakan, termasuk yang telah dibuat dalam kerangka memperbaiki kualitas SDM dan peningkatan daya saing nasional.

Pada kesempatan itu, juga akan dibahas secara mendetil arah kebijakan yang telah dirumuskan pemerintah untuk mendorong peningkatan kualitas SDM terkait penguasaan IPTEK sebagai upaya meningkatkan daya saing nasional. Dalam kerangka ini ada perubahan strategi yakni dari ‘supply driven’ menjadi ’demand driven’. Perubahan strategi ini adalah sebagai upaya menjawab tantangan zaman karena terjadinya akselerasi perubahan konfigurasi industri global yang dipicu oleh revolusi digital (Industri 4.0).

Sejumlah narasumber utama hadir dalam acara ini, iga menteri ke Surabaya. Yakni, Menristek Dikti Muhammad Nasir, Menhan Ryamizard Ryacudu, dan Menkop dan UKM Puspayoga. Hadir pula sebagai panelis di acara ini, wartawan senior di Jawa Timur Rahman Budiyanto dari JPIP dan Emil Faizzah dari JTV.

Kegiatan FMB 9 yang diinisiasi Kementerian Komunikasi dan Informatikan Ditjen IKP ini, bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).