Rilis 3 : Strategi Jadikan Inhan Kuat, Mandiri, dan Berdaya Saing

TANGGAL :
Kamis, 22 November 2018

JAM NAIK BERITA :
14:05:53

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Peningkatan Daya Saing Daerah

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


SURABAYA: Kebijakan Pertahanan Negara 2015-2019 di antaranya mengatur tentang strategi pengelolaan industri pertahanan (inhan), sehingga senantiasa mampu menjadi industri yang kuat, mandiri, dan berdaya saing.
Demikian disampaikan, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laskda Agus Setyadi, dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Membangun Indonesia dalam Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah", bertempat di Ruang Hayam Wuruk, Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (22/11/2018).

“Kita memang berupa mewujudkan industri pertahanan yang kuat . Karena, tidak ada negara besar di dunia yang industri pertahanannya berada di level bawah. Amerika Serikat, industri pertahanannya yang paling kuat,” katanya.

Oleh karena itu, Agus mengatakan, pemerintah melakukan sejumlah langkah. Antara lain, sambung dia, pembinaan potensi teknologi dan industri pertahanan, menggelar kerja sama internasional, KLO (konten lokal), melakukan penjualan produk industri pertahanan, mempromosikan produk inhan, dan mengembangkan teknologi dan industri pertahanan.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita mendapat 7 program prioritas nasioanal, pertama, inhan yang strategis. Kita lihat inggris, inhannya sangat kuat. Lalu Prancis, yang menguasai hampir 40% di dnunia. Lalu Korsel dengan produk-produk kapal dan kapal selam yang sudah bisa di-upgrade oleh Korea itu sendiri,” katanya.

Sejumlah langkah yang disiapkan, menurut Agus, antara lain, pembinaan potensi teknologi dan industri pertahanan, melakukan penjualan produk industri pertahanan, menggelar kerja sama internasional, mempromosikan produk inhan, dan mengembangkan teknologi dan industri pertahanan.

Terkait penjualan produk inhan, Agus mengungkapkan satu hal yang membanggakan. Pasalnya, menurut dia, kini inhan Indonesia sudah layak dianggap sebagai pesaing inhan-inhan lain di dunia.

“Melihat penjualan tersebut, Saat ini, industri pertahanan Indonesia sudah menjadi pesaing bagi industri pertahanan-industri pertahanan lain yang ada di dunia,” katanya.
Seiring dengan peningkatan daya saing, Agus mengatakan, pemerintah memiliki target pada 2019 inhan Indonesia, dalam hal ini PT Pindad, akan mampu memproduksi secara massa kendaraan tempur berjenis medium tank. Sedangkan PT PAL ditargetkan akan melakukan serah terima Kapal Selam #3. Diketahui, pada 2018, Kapal Selam Ardadedali selesai dibangun.

“Dua kapal selam sebelumnya sudah dikirimkan dan dioperasionalkan. Sekarang sudah yang ketiga, dalam proses pengerjaan dan ditargetkan serah terima pada 2019. Terkait kapal selam juga, dengan kita menguasai industri kapal selam, kemampuan SDM dan bargaining power kita meningkat. Kita dalam negoisasi dengan PT PAL untuk membangun kapal selam sendiri,” katanya.

Bukan hanya itu, pemerintah melalui PT DI, PT Dahana, PT Pindad, dan Lapan juga menargetkan sertifikasi dan produksi massal Roket R-Han 122. Selain juga, tuntasnya pembangunan sistem rudal yang dilakukan PT DI dan PT Infoglobal.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mengungkapkan bahwa ekspor produk inhan sepanjang 2015-2018 mencapai USD 284,1 juta. Sedangkan untuk penjualan dalam negeri di kurun yang sama mencapai Rp4,5 triliun.

Untuk ekspor, Agus membeberkan, angka penjualan sebesar USD 161 juta dilakukan PT Dirgantara Indonesia dengan produk CN-235 sebanyak 2 unit ke Senegal, NC-212 sebanyak 3 unit ke Vietnam, NC-212 sebanyak 2 unit ke Thailand. Sedangkan melalui PT PAL sebesar USD 86,9 juta ke Filipina dengan produk beripa 2 unit kapal SSV.

Ekspor juga dilakukan PT Pindad dengan produk panser Anoa, kendaraan tempur, senjata, dan amunisi untuk memenuhi kebutuhan sejumlah negara di Asean, Afrika, UAE, Korsel, Nigeria, dan juga Timor Leste. Sementara itu, PT Lundin juga melakukan ekspor ke Rusia dan Swedia dengan produk berupa kapal Sea Rider senilai USD 3,6 juta. Ekspor juga dilakukan PT.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Agus mengatakan, industri strategis menjual ke TNI-AU senilai Rp1,83 triliun, untuk TNI-AL Rp1,29 triliun, untuk TNI-AD sebesar Rp 1,19 triliun. Sedangkan untuk Markas Besar TNI, penjualan inhan dalam kurun 2015-2018 mencapai angka Rp180,4 miliar.

Demi mengerek kemampuan inhan, Agus menyampaikan, pada tahun ini, pemerintah mengalokasikan Rp3,8 triliun khusus untuk industri pertahanan.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).