Motor Listrik Siap Diproduksi Massal

TANGGAL :
Jum'at, 23 November 2018

JAM NAIK BERITA :
06:50:04

MEDIA :
Kompas

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
M Nasir, Menristekdikti ,Agus Setyadi, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan

TONE :
Pro

TOPIC :
Peningkatan Daya Saing Daerah

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


Surabaya - Awal tahun depan, Indonesia siap memproduksi massal sepeda motor listrik Gesits. Produksi akan dilakukan di pabrik di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan kapasitas 50.000-60.000 unit per tahun.
Gesits merupakan kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, industri, serta Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kendaraan ini dinyatakan bisa dipacu hingga 100 kilometer (km) per jam. Harga jual sekitar Rp 20 juta per unit.

Demikian dikatakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, Kamis (22/11/2018), seusai pemaparan kinerja empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo melalui forum merdeka barat 9 di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya .

Nasir mengatakan, negara dalam hal ini berperan mendorong produksi kendaraan ramah lingkungan untuk masyarakat secara mandiri. Teknologi kendaraan listrik masih berjalan di dunia meski belum menjadi yang utama. Kendaraan yang mayoritas diproduksi masih memakai bahan bakar minyak atau setidaknya hibrida dengan listrik.

Menurut dia, karena teknologi kendaraan listrik belum menjadi yang utama, Indonesia tidak merasa tertinggal. Meski sepeda motor listrik sudah ada yang dipasarkan di Indonesia, produksi sendiri diyakini akan lebih diminati masyarakat.

Sepeda motor listrik yang dijual di pasaran saat ini rata-rata hanya mampu dipacu maksimal 40 km per jam. Untuk sepeda motor listrik yang bisa dipacu hingga 80 km per jam, harganya menembus Rp 100 juta per unit.

Adapun Gesits, lanjut Nasir, merupakan sepeda motor listrik dengan struktur umum. Kendaraan ini bisa dipacu hingga 100 km perjam. Pengukur kecepatan pada kepala kendaraan merupakan telepon seluler yang bisa dicopot dan difungsikan bukan sekadar untuk mengukur laju dan indikasi daya listrik. Selain itu, sistem daya kendaraan memakai metode battery swap (tukar baterai) yang nanti berlangsung di stasiun pengisian balian bakar untuk umum.

"Tugas kami dalam penelitian dan pengembangan sudah selesai. Untuk produksi dan harga jual, kami sebenarnya tidak berwenang," katanya. Namun, apabila benar bisa diproduksi awal tahun depan, pemesanan sudah bisa dilakukan.

Mobil Esemka

Jika produksi Gesits berjalan sesuai harapan, kata Nasir, pemerintah siap mendorong produksi mobil listrik Esemka. Produksi mobil listrik tentu harus melihat perkembangan Gesits ke depan. Pada tahun 2019, produksi 50.000-60.000 unit setahun itu bisa ditingkatkan hingga empat kali lipat sesuai kapasitas maksimal pabrik di Sentul.

"Jika diterima dengan baik, produksi mobil listrik bisa diwujudkan," ujarnya

Pemakaian kendaraan listrik akan menghemat konsumsi ba-han bakar minyak (BBM) publik. Konsumsi listrik pada kendaraan lebih hemat 30 persen daripada BBM. Untuk konsumsi BBM, negara harus mengimpor 400.000 barel per hari, atau senilai Rp 240 triliun* per tahun. Penghematan anggaran BBM bisa dialokasikan untuk program lain yang lebih bermanfaat

Selain kendaraan umum, Indonesia juga mampu memproduksi kendaraan untuk kepentingan industri militer. Kepala Badan Sarana Pertahanan Laksamana Muda Agus Setiadji mengatakan, pada kurun waktu 2015-2018, Indonesia telah mengekspor produk industri pertahanan senilai 284,1 juta dollar AS. Penjualan dalam negeri atau untuk dipakai TNI/Polri pada kurun waktu yang sama telah menembus Rp 4,5 triliun.

Penjualan dalam negeri tahun ini dianggarkan Rp 3,8 triliun. "Jadi, ada beberapa produk tidak boleh beli dari mancanegara atau memakai produk dalam negeri untuk kemajuan industri domestik," kata Agus.

Industri pertahanan di Indonesia juga terus bersiap untuk megaproyek produksi 12 kapal selam. Meski teknologi kapal selam belum dikuasai secara penuh, Indonesia telah mampu turut membuat satu unit di PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya.