Perguruan Tinggi Diminta Hasilkan Lulusan Ciptakan Lapangan Kerja

TANGGAL :
Kamis, 6 Desember 2018

JAM NAIK BERITA :
16:48:53

MEDIA :
Cendananews.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
M Nasir, Menristekdikti ,Hamid Muhamad, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah,Wahidin Halim, Gubernur Banten

TONE :
Pro

TOPIC :
Membangun Banten

CATEGORY :
-

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp 9.000.000

AD :
Rp 3.000.000

LINK ORIGINAL :

Serang – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, mendorong Perguruan Tinggi (PT) menghasilkan lulusan yang mampu melakukan kewirausahaan dan menciptakan lapangan pekerjaan, salah satu upaya untuk mengurangi angka pengangguran.
“Lulusan perguruan tinggi harus diperbaiki, SDM harus inovatif, kita harus melakukan perubahan sistem pendidikan,” kata Menristekdikti, M Nasir, dalam seminar “Membangun Indonesia Dengan Tenaga Kerja Berkualitas” yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Pendopo Gubernur Banten, di Serang, Kamis.

Menurut dia, harus dilakukan perbaikan kurikulum Perguruan Tinggi (PT) dengan menghasilkan lulusan yang mampu melakukan kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja.

“Saya moratorium pendidikan sosial. Kemudian sains, enginering, matematika harus didorong agar mampu melakukan berbagai inovasi teknologi,” kata Nasir.

Kemudian, kata dia, pendidikan vokasi di tingkat SMA/SMK harus ditingkatkan serta perlu dibangun akademi komunitas berbasis pedesaan dan diperbanyak politeknik di daerah-daerah.

“Menekan pengangguran adalah dengan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan dunia usaha. Kemudian Perguruan Tinggi juga harus punya lembaga sertifikasi profesi sesuai dengan bidangnya masing-masing,” katanya.

Menurut dia, Indonesia masuk negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 266 juta jiwa. Namun demikian, tantangan SDM Indonesia yang lulusan sekolah SMA/SMK sampai yang tidak lulus sekolah angkanya mencapai 87,87 persen.

“Lulusan Perguruan Tinggi di kita hanya 12,13 persen. Sebagian besar lulusan SMA/SMK sampai tidak lulus sekolah,” katanya.

Sementara, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengatakan, kenapa banyak lulusan SMK yang menganggur, diantaranya karena banyak sekolah SMK ‘mismatch’ atau banyak sekolah SMK tidak sesuai jurusan dan kurikulum dengan bidang yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

“Masalah berikutnya karena ‘over supply’, banyak siswa mengambil jurusan melebihi kebutuhan dunia kerja,” kata Hamid.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata dia, ada beberapa hal yang sudah dilakukan terkait revitalisasi SMK. Kemudian penyelarasan SMK dan membuka peluang kelas industri di SMK dengan kurikulum yang disesuaikan oleh perusahaan.

“Kemudian kerja sama dengan industri dan lembaga sertifikasi profesi serta mengarahkan SMK ke bidang kewirausahaan,” kata Hamid.

Gubernur Banten, Wahidin Halim, yang juga menjadi narasumber dalam seminar tersebut, mengaku heran dengan tingginya angka pengangguran yang beberapa waktu lalu dirilis BPS. Sebab, kata dia, IPM Banten di atas rata-rata, begitu juga pertumbuhan ekonomi Banten juga di atas rata-rata nasional.

“Kemiskinan di Banten juga rendah. Ironisnya rakyat miskin berkurang, kemampuan daya beli tinggi tapi pengangguran besar,” kata Wahidin.

Menurut dia, tingginya angka pengangguran tersebut disumbang dari lulusan SMK, karena lulusan SMK yang mencapai 135 ribu, ternyata ada beberapa jurusan yang sudah stagnan. Kemudian, kata dia, persoalan lain tenaga pengajar tidak kompeten, kurang praktik atau terlalu banyak teori.

“Jadi pengangguran cukup besar dari lulusan SMK, pengangguran juga banyak di daerah industri, kemudian banyak urban dari daerah lain. Tidak mungkin gubernur keluarkan maklumat melarang orang dari luar Banten datang ke sini,” kata Wahidin Halim dalam seminar yang dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan jurnalis itu.

Narasumber lainnya dalam seminar FMB9 yang diinisiasi Dirjen Informasi, Komunikasi Publik Kemenkominfo tersebut, yakni Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan Kementerian PUPR, Dewi Chomistriana.