Rilis 6: Hadapi Era Disrupsi Teknologi dan Daya Saing Industri dengan Revitalisasi SMK

TANGGAL :
Kamis, 13 Desember 2018

JAM NAIK BERITA :
17:08:27

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Membangun Banten

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


SERANG - Saat ini, daya saing Indonesia berada pada peringkat ke-45 dari 140 negara. Hal itu merupakan tantangan pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Dan, salah satu jawaban bagi tantangan itu adalah memperbanyak lulusan pendidikan tinggi yang terserap di dunia kerja.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Membangun Indonesia Dengan Tenaga Kerja Berkualitas" di Gedung Pendopo Gubernur Banten, Serang, Kamis (6/12/2018).

“Salah satu strategi untuk menjawab tantangan itu adalah memperbanyak lulusan Pendidikan tinggi diarahkan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mendorong lulusan terserap di dunia kerja atau menjadi wirausaha (entrepreneur),” ujar Nasir.

MenurutMenristek Dikti,, jika sekitar empat tahun lalu tingkat pengangguran dari pendidikan vokasi mencapai angka 9,25 persen, kini tercatat sekarang tinggal 6.02 persen.

“Ini sebuah breaktrough, yang telah kita upayakan dalam menyiapkan lulusan yang mendukung penyerapan tenaga kerja yang sesuai dengan perkembangan zaman,” ulas Nasir.

Kondisirelevansi pendidikan dengan pekerjaan di dunia saat ini, menurut data dari Kemenristekdikti, menunjukkan bahwa masih ada komplain dari pemberi kerja bahwa para pekerja tidak mempunyai skills yang memadai.
Asumsi itu diperoleh dari hasil survei McKinsey Center for Government (2012), Education to Employment: Designing a System that Works, terhadap 8.000 universitas dan industri di 25 negara.

Ditengah era disrupsi teknologi revolusi industri 4.0, sejumlah langkah yang bisa dilakukan demi senantiasa mampu berkompetisi. Sebagaimana diingatkan Menristekdikti, muncul teknologi baru yang mengakibatkan perubahan luar biasa di semua disiplin ilmu, ekonomi, dan industri.

Terkaithalitu, dalam pertemuan G-20 para menteri pendidikan menyepakati sejumlah kebijakan yang didasari oleh keinginan adanya relevansi pendidikan (tinggi) dengan perkembangan zaman (RI 4.0) agar lulusan tetap kompetitif.

"Kebijakan itu, di antaranya, mengintegrasikan kepemimpinan, manajemen, dan keterampilan kewirausahaan (entrepreneurial skills) lintas kurikulum," pungkas Nasir.

Diacarayang sama, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hamid Muhammad mengatakan Pemerintah mendorong lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) agar sesuai dengan kebutuhan industri dan mempunyai jiwa kewirausahaan.

"Untuk itu, Kemendikbud merevitalisasi kebijakan pendidikan kejuruan untuk meningkatkan kualitas SMK. Ada empat hal yang sudah kami lakukan berdasarkan Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK," ujar Hamid.
DirjenHamidmenjelaskan, upaya pertama pihak Kemendikbud untuk merevitalisasi kualitas SMK adalah dengan menyelaraskan kurikulum SMK dengan industri maupun kebutuhan lokal.

"Sejauh ini sudah ada 142 kompetensi keahlian yang diselaraskan dengan kebutuhan industri dan sudah dituntaskan pada Desember 2017," jelasnya.

Sejumlah pelaku industri seperti ritel, otomotif, produk kecantikan sudah menjalin kerja sama membuka kelas di SMK sesuai kurikulum industri. Upaya lainnya, pemerintah membuat kebijakan meningkatkan kompentensi dan kualitas guru.

"Saat ini, sekolah menengah masih kekurangan guru produktif yang mampu mengajar dua keahlian. Melalui kebijakan menambah guru kejuruan tidak hanya dari lulusan pendidikan tinggi, namun juga dari Politeknik,' papar Hamid.

Dari kebijakan ini, menurut Dirjen Hamid, ke depan ada sekitar 12.000-an tambahan guru. Lalu dari hasil pembukaan CPNS untuk guru, kekurangan ini dapat dipenuhi dan dukungan dari lulusan atau pengajar praktisi dari Politeknik.

"Pemerintah juga terus mendorong menerbitkan sertifikasi keahlian dari lulusan SMK tersebut. Ada empat prioritas kejuruan yang dikembangkan di SMK saat ini, yakni agrobisnis dan agroteknologi, pariwisata, kemaritiman serta seni dan industri kreatif," pungkasnya.

Turuthadir dalam FMB 9 kali ini antara lain Direktur Kerja Sama dan Pemberdayaan Ditjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dewi Chomistriana, dan Gubernur Banten Wahidin Halim.

KegiatanFMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).(jpp)