Rilis 1 : Memotret Potensi Bencana dan Strategi Jitu Mitigasi

TANGGAL :
Jum'at, 8 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
09:07:41

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


HAMPIR separuh dari total korban jiwa akibat bencana alam yang terjadi di dunia, yakni total 10.373 jiwa, ada di Indonesia. Demikian catatan yang dipublikasi UNISDR (United Nation International Strategy of Disaster Reductio) jelang penghujung Januari 2019.
Pada kurun tersebut, angka korban meninggal akibat bencana di Indonesia memang paling tinggi di dunia. Yakni, angkanya mencapai 4.535 jiwa. Dan dari angka itu, bencana geologi antara lain gempa, tsunami, dan erupsi gunung menjadi sumber penyebab utama jatuhnya korban dengan angka setidaknya mencapai 4.417 jiwa.

Tingginya korban jiwa akibat bencana di Indonesia, menurut Centre for Research on the
Epidemiology of Disasters (CRED), bahkan tercatat terjadi sejak 2000. Hal itu berkorelasi yang kuat dengan kondisi geografis Indonesia, yang memang terletak di kawasan rawan bencana (ring of fire).

Berbekal kesadaran itulah, mitigasi bencana sejatinya telah menjadi perhatian serius dari pemerintah. Presiden Joko Widodo dalam Rapat Koordinasi Nasional BNPB dan BPBD se-Indonesia memberikan setidaknya enam arahan terkait implementasi mitigasi bencana.

Arahan pertama, setiap (perencanaan) pembangunan harus dilandaskan pada aspek-aspek pengurangan resiko bencana. Di mana dalam hal ini, pemda harus tegas menetapkan tata ruang berbasis resiko bencana. Kedua, pelibatan akademisi dan pakar bencana untuk mengkaji, menganalisis potensi bencana supaya kita mampu memprediksi siklus ancaman, mengantisipasi, dan mengurangi dampak bencana.

Kemudian ketiga, saat terjadi bencana, gubernur sebagai komandan satuan tugas penanganan kondisi darurat, dengan didukung pangdam dan kapolda sebagai wakilnya. Keempat, pembangunan dan peringatan dini terpadu berbasiskan rekomendasi hasil penelitian dan pengkajian para pakar. Di sini Kepala BNPB bertugas mengordinasikan kementerian dan lembaga terkait untuk membangun sistem peringatan dini terpadu.

Kelima, pendidikan kebencanaan dimulai tahun ini, baik di sekolah maupun di masyarakat, terutama di daerah rawan bencana. Papan peringatan, rute evakuasi harus dibuat atau dipasang dengan jelas. Dan keenam, perlu dilakukan simulasi dan pelatihan (gladi) penanganan bencana secara berkala dan berkesinambungan hingga ke tingkat RT/RW agar membangun kesiap-siagaan bencana masyarakat.

Kendati demikian besarnya perhatian pemerintah terkait antisipasi dan penanganan bencana, implementasi mitigasi bencana kerap masih menyisakan banyak kritik. Antara lain, soal kegagalan sistem peringatan dini tsunami dan lemahnya mitigasi bencana.

Itulah sebabnya, berbagai persoalan terkait kebencanaan akan dikupas tuntas dan dilengkapi data eksklusif dalam ajang diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertema ‘Potensi dan Mitigasi Kebencanaan’ yang berlangsung di Ruang Auditorium Gedung BMKG, Jl Angkasa 1 No 2, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat (8/2/2019), pada pukul 09.00 WIB.

Terobosan dan langkah-langkah yang dilaksanakan dalam menghadapi ancaman bencana, termasuk penguasaan dan kepemilikan teknologi, akan disampaikan secara detil oleh keempat narasumber utama yang dihadirkan langsung ke hadapan insan media di tanah air, yakni Kepala PVMBG Kementerian ESDM Kasbani, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Informasi Geospasial Hasanuddin Z Abidin, serta Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).