Rilis 6 - Pemerintah Telah Sempurnakan Peringatan Dini Tsunami

TANGGAL :
Jum'at, 8 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
18:05:21

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


JAKARTA - Pemerintah telah menyempurnakan SOP (standar operasional prosedur) terkait peringatan dini tsunami.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Potensi dan Mitigasi Kebencanaan’, bertempat di Gedung Auditorium BMKG, Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Dijelaskan Rahmat, sebelum terjadinya bencana tsunami di Selat Sunda yang terjadi lantaran pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), SOP yang ada terkait peringatan dini tsunami diberikan berdasarkan data gempa tektonik yang terjadi. Namun, sambung dia, peristiwa di Selat Sunda menjadi pembelajaran tersendiri.

“Pada dasarnya 99 % tsunami terjadi karena gempa bumi tektonik. Namun diketahui bersama, kejadian tsunami di Selat Sunda terjadi kompleksitas tersendiri. Di mana bukan dari akibat gempa bumi tektonik. Dan itu ditandakan dengan sinyalnya sangat berbeda,” katanya.

Lantaran itulah, Rahmat menjelaskan, kini telah dipasang enam alat, yakni tiga di Banten dan tiga lainnya di Lampung, untuk mendeteksi dampak erupsi gunung berapi yang ada di laut.

“Kami bekerja sama dengan berbagai pihak sudah memasang seismograf untuk mengamati dampak erupsi gunung api. Sehingga ke depan jika ada sumber getaran jelas, kita dapat mengeluarkan warning tsunami. Di mana, yang menjadi basic datanya adalah magnitude dan epic,” katanya.

Bukan Hanya di Selat Sunda
Pada kesempatan itu, Rahmat mengungkapkan, saat ini potensi tsunami akibat pengaruh erupsi gunung api laut bukan hanya ada di Selat Sunda. “Ada juga gunung-gunung api lain yang ada di laut. Di antaranya yang kini tengah dalam pemantauan besama adalah GAK, Gunung Gamalama, Gunung Teon, Gunung Werung, Gunung Tambora, dan Gunung Awu,” katanya.

Dan terkait ancaman tsunami akibat pengaruh gunung api di laut, Rahmat mengatakan, berdasarkan hitungan pakar, khususnya di sekitaran Mentawai, Nias, dan Simeuleue, diingatkan pentingnya kemampuan dan kesadaran evakuasi mandiri. Yakni manakala, sambung dia, ada guncangan gempa yang kuat dan lama.

“Pasalnya, di sekitaran Mentawai, tsunami bisa berlangsung sangat cepat. Sehingga, dapat mendahulu peringatan dini tsunami yang diberikan. Hal itu karena sumber gempa jika di sekitar Mentawai dapat mengakibatkan tsunami bisa datang sangat cepat,” katanya.

Turut hadir dalam FMB 9 kali ini antara lain Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika BIG Antonius Bambang Wijanarto, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Kementerian ESDM Hendra Gunawan, dan Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).