BMKG: Siap Pasang 50 Peringatan Dini Gempabumi di Sumbar

TANGGAL :
Sabtu, 9 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
06:30:53

MEDIA :
Suaramerdeka.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG

TONE :
Pro

TOPIC :
Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

CATEGORY :
BMKG

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 9.000.000

AD :
Rp. 3.000.000

LINK ORIGINAL :

Jakarta - Indonesia merupakan wilayah ring of fire dan berada dalam lingkaran Cincin Api Pasifik. Wilayah Indonesia memiliki beberapa zona subduksi/ penunjaman dan segmentasi zona megathrust.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Potensi dan Mitigasi Kebencanaan’, bertempat di Gedung Auditorium BMKG, Jakarta, Jumat (8/2). BMKG menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan FMB 9 kali ini.

Dijelaskan Rahmat, Indonesia memilki 295 sumber gempa sesar aktif (yang baru/sudah teridentifikasi).

“Sebelum terjadinya bencana tsunami di Selat Sunda yang terjadi akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), SOP yang ada terkait peringatan dini tsunami diberikan berdasarkan data gempa tektonik yang terjadi. Namun, sambung dia, peristiwa di Selat Sunda menjadi pembelajaran tersendiri.

“Pada dasarnya 99 % tsunami terjadi karena gempa bumi tektonik. Namun diketahui bersama, kejadian tsunami di Selat Sunda terjadi kompleksitas tersendiri. Di mana bukan dari akibat gempa bumi tektonik. Dan itu ditandakan dengan sinyalnya sangat berbeda,” katanya.

Dengan kondisi inilah, Rahmat menuturkan , BMKG telah memasang enam alat, yakni tiga di Banten dan tiga lainnya di Lampung, untuk mendeteksi dampak erupsi gunung berapi yang ada di laut.

Kami bekerja sama dengan berbagai pihak sudah memasang seismograf untuk mengamati dampak erupsi gunung api. Sehingga ke depan jika ada sumber getaran jelas, kita dapat mengeluarkan warning tsunami dengan basic datanya adalah magnitude dan epic,” katanya.

Perkuat Mitigasi

“Akhir-akhir ini masyarakat Sumatera Barat diingatkan krmbali akan adanya gempa bumi besar yang bersumber disekitar Kepulauan Mentawai. Seperti yang kita ketahui, telah terjadi kejadian gempabumi di Lombok pada Juli 2018, Gempa dan tsunami Palu pada 28 september 2018 yang diikuti likuifaksi di daerah Balaroa Palu dan Tsunami Selat Sunda, 22 Desember 2018,” imbuh Rahmat.

BMKG pun, lanjut Dia telah melakukan langkah-langkah antisipasi dan mitigasi gempabumi dan tsunami melalui Sekolah Lapang Gempa, (SLG), pemasangan sensor-snsor EEWS (Earthquake Early Warning System) yang ditempatkan di sekitar Kepulauan Mentawai yang notabene pulau terdekat dari Sumber Gempabumi (Zona megathrusht).

“Rencanannya BMKG akan menempatkan 50 sensor Earthquake Early Warning System di Provinsi Barat,”lanjut Rahmat.

Rahmat menekankan edukasi dan mitigasi perlu dibangun dan diperkuat sinergi antar akademia/pakar, pihak swastas, masyarakat dan tokoh agama, pemerintah dan lembaga terkait.

FMB9 kali ini melibatkan narasumber Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono; Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Lilik Kurniawan; Kepala Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamik, Antonius Bambang Wijanarto, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api KemenESDM, Hendra Gunawan, dan jurnalis.

Forum Merdeka Barat 9 (FMB) sendiri merupakan forum resmi sosialisasi, klarifikasi. Kontranasi,dan agenda setting program peioritas pemerintah dengan peserta para wartawan media elektronik, cetak, dan online dibawah koordinasi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

Kegiatan FMB 9 ini pun yang berlangsung Jumat Pagi ini di livestreamnig di media sosia twitter @infobmkg dan youtube InfoBMG, www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).