Awasi Aktivitas 70 Gunung Berapi

TANGGAL :
Sabtu, 9 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
Jawa Pos

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Hal. 25

PR :
Rp. 242.730.000

AD :
Rp. 80.910.000

FILE ORIGINAL :


JAKARTA - Pada 2018, angka korban meninggal karena bencana di Indonesia paling tinggi di dunia Yakni, angkanya mencapai 4.535 jiwa. Korban jiwa itu diakibatkan bencana geologi seperti gempa, tsunami, dan erupsi gunung.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membuat peta kawasan rawan bencana geologi sebagai acuan pemerintah daerah dalam mengembangkan wilayahnya. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM hendra gunawan mengatakan bahwa peta kawasan rawan bencana (KRB) juga sudah diinformasikan ke daerah. "Peta KRB ini yang menjadi acuan dalam pengembangan suatu wilayah," ujarnya.

Sejauh ini, Badan Geologi telah memetakan daerah rawan gempa bumi maupun gunung berapi di seluruh Indonesia. Secara statistik, dari 1990-an sampai 2004, banyak kegempaan melanda Indonesia di wilayah timur. Namun, setelah 2004, jumlah kegempaan terbanyak justru bergeser ke barat. "Kami terus-menerus memonitor 70 di antara 127 gunung api aktif yang terbentang dari barat hingga timur Indonesia," tambahnya.

Menurut dia, hal itu dilakukan sebagai bagian dari mitigasi bencana geologi seperti gempa bumi, gunung berapi, dan tanah longsor. Selain itu, dilakukan pemetaan kawasan rawan bencana untuk mengurangi jumlah korban dan kerusakan infrastruktur. "Sebelumnya, daerah Palu, Sulawesi Tengah, juga dikaji dan dipetakan Badan Geologi sebagai kawasan rawan gempa dan berpotensi tsunami * maupun likuifaksi," katanya.

Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali memetakan gunung berapi di bawah laut yang berpotensi tsunami. Sebab, sebelum terjadi tsunami di Selat Sunda, tsunami yang terjadi di Indonesia diakibatkan aktivitas tektonik, bukan vulkanik.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyatakan, peristiwa di Selat Sunda menjadi pembelajaran tersendiri. "Pada dasarnya, 99 persen tsunami terjadi karena gempa bumi tektonik. Namun, kejadian tsunami di Selat Sunda terjadi kompleksitas tersendiri. Di mana bukan dari akibat gempa bumi tektonik. Itu ditandai dengan sinyalnya yang sangat berbeda," jelasnya.

Karena itu, BMKG telah memasang enam alat pendeteksi dampak erupsi gunung berapi di laut "Kami bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memasang seismograf guna mengamati dampak erupsi gunung berapi. Sehingga, ke depan, jika ada sumber getaran jelas, kami dapat mengeluarkan warning tsunami," jelasnya.