Kesadaran Bencana Ditingkatkan'

TANGGAL :
Sabtu, 9 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
Mediaindonesia.com

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Potensi dan Mitigasi Kebencanaan

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 9.000.000

AD :
Rp. 3.000.000

LINK ORIGINAL :

Pemerintah terus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana melalui pendidikan di sekolah. Penerapan program pendidikan kebencanaan saat ini telah diterapkan di 250 ribu sekolah di daerah-daerah rawan bencana.
"Penanganannya berbeda-beda, tergantung jenis kerawanan bencana di daerah tersebut," kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lili Kurniawan dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 bertajuk Peta Potensi Bencana dan Implementasi Mitigasi Bencana di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, di sekolah yang mendapatkan program itu diterapkan tiga pilar. Pertama, soal pembenahan fasilitas sekolah. "Dilihat fasilitasnya sudah memadai belum. Bila sekolahnya di lokasi rawan gempa, harus diperkuat struktur sekolahnya," katanya.

Kemudian pilar kedua, manajemen penanggulangan bencana. Dalam manajemen penanggulangan bencana, siswa, guru, dan karyawan sekolah diedukasi tentang alur penyelamatan diri bila terjadi bencana. Mereka harus paham betul di mana tempat-tempat aman di sekolah. "Jalur evakuasi dibuat, anak-anak dilatih," ujarnya.

Pilar ketiga, kata Lili, penerapan muatan lokal kebencanaan. Program ini bukan untuk nasional, melainkan hanya untuk sekolah-sekolah di daerah rawan bencana.

Ia menjelaskan, muatan lokal dibuat atas kerja sama BNPB dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penerapannya di sekolah-sekolah melibatkan dinas pendidikan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Selain itu, lanjut Lili, sekolah juga harus mengajarkan keterampilan khusus saat kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, yang menunjang kesiapan siswa menghadapi bencana.

Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kebencanaan melalui pendidikan di sekolah telah dilakukan sejak 2012. Meski demikian, saat ini upaya tersebut lebih digencarkan pascarentetan bencana alam yang terjadi pada 2018. "Sudah diterapkan sejak 2012, tetapi belum semasif sekarang," katanya.

Muatan lokal

Di tempat terpisah, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Awaluddin Tjalla mengatakan, materi mitigasi kebencanaan sudah diberikan mulai dari kelas I SD hingga kelas XII SMA. Materinya disisipkan pada sejumlah mata pelajaran.

Pengetahuan mengenai mitigasi bencana diintegrasikan dengan mata pelajaran yang sudah ada dan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan budaya sekolah. Kalaupun dibuat mata pelajaran penuh, berupa muatan lokal.

"Dalam mata pelajaran sudah disisipkan muatan mengenai mitigasi kebencanaan, seperti dalam mata pelajaran IPS, IPA, geografi, dan bahasa Indonesia," katanya. Dalam hal ini, lanjutnya, guru harus lebih sering menerangkan tentang mitigasi bencana kepada murid.

Pengetahuan mitigasi kebencanaan diterapkan di daerah rawan bencana, antara lain di Aceh dan di Sulawesi Tengah. "Muatan lokal yang diberikan di sekolah-sekolah di Aceh mengajarkan kepada siswa bagaimana menghindari bencana alam seperti tsunami dengan cara menaiki dataran yang lebih tinggi," ujar Awalludin.

Sementara itu, ujarnya, di Sulawesi Tengah mitigasi bencana diajarkan karena wilayah tersebut berada di patahan lempeng yang rawan bencana.