Modal Asing di Unicom tidak Perlu Dikhawatirkan

TANGGAL :
Rabu, 27 Februari 2019

JAM NAIK BERITA :
07:37:39

MEDIA :
Media Indonesia

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Unicorn

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Hal. 13

PR :
Rp. 122.958.000

AD :
Rp. 40.986.000

FILE ORIGINAL :


Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan hadirnya sejumlah investor asing di sejumlah unicom (perusahaan rintisan bervaluasi di atas US$1 miliar) tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
"Jadi kalau ditanya (unicorn) milik siapa, untuk siapa, ya (milik) kita. Betul ada kekhawatiran ini kita juga harus senantiasa alert, senantiasa waspada, tapi jangan membuat diri kita paranoid," katanya dalam Diskusi forum merdeka Barat bertema Investasi unicom untuk siapa?, di Kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, kemarin.

Pembahasan mengenai unicorn sebelumnya ramai disorot seusai debat capres jihd dua pekan lalu. Startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar itu bahkan disebut-sebut dikuasai asing. Indonesia hanya menguasai sebagian saham di unicom tersebut.

Menurut Rudiantara, sekalipun porsi saham asing di unicom berjumlah besar, tidak otomatis membuat mereka menguasainya. Sebab, kata dia, bisnis ini berbeda dari yang konvensional dengan pemilik saham terbesar memegang kendali. "Di startup nggak gitu. Founder itu nggak boleh keluar malah, meski suatu saat listed (terdaftar di pasar modal). Venture capital-nya? Ya mereka cuma uang saja," jelasnya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong menyampaikan hal senada. Meski pemilik modal mengucurkan dana yang signifikan, kata dia, mereka tidak ingin terlibat dalam kegiatan usaha.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tidak perlu heran jika saat ini banyak perusahaan unicom diminati investor global, padahal perusahaan tersebut tergolong baru dan belum begitu menjanjikan. Investor-investor itu, kata Menkeu, mengincar kekayaan data yang dimiliki perusahaan tersebut. Data yang merekam kegiatan ekonomi, terutama kegiatan konsumsi dan transaksi masyarakat, kata dia, menjadi komoditas baru yang sangat berharga dalam kegiatan ekonomi saat ini.

"Mereka hanya 'membakar' uang karena mereka ingin tahu \'mining -nya (penambangan data) ketika itu menjadi sebuah aset. Kemudian valuasi asetnya akan muncul dan aset itu yang diincar," ujar Menkeu mengingatkan.