Rilis 3 FMB 9: Bappeda Kalsel: Melalui Deklarasi Loksado, Kondisi Kesehatan di Kalsel Makin Membaik

TANGGAL :
Rabu, 6 Maret 2019

JAM NAIK BERITA :
11:15:08

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
-

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


BANJARMASIN (06/03/2019) - “Melalui Deklarasi Loksado dengan 15 program unggulan provinsi Kalsel maka kondisi kesehatan disini makin membaik,” demikian tegas Kepala Bappeda Kalsel Nurul Fajar Desira dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema “Terobosan dan Sinergi Layanan Dasar di Kalimantan Selatan”, bertempat di Gedung Mahligai Pancasila, Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Rabu (6/3/2019).
“Kemudian kami bertekad menurunkan AKI (angka kematian ibu), AKB (anga kematian bayi), gizi buruk dan stunting. Melalui Deklarasi Loksado, kita berupaya melaksanakan 15 program yang mana hasilnya adalah penurunan AKI, AKB, gizi buruk dan stunting. Juga ada program Isi Piringku yang ditujukan untuk Bumil (ibu hamil). Maka dengan dipimpin Ibu Gubernur provinsi Lalsel mencetak rekor Muri yaitu melibatkan 2053 bumil dalam program Isi Piringku.

Ia menambahkan, luas provinsi Kalsel itu paling keil yaitu 37500 m2, jumlah penduduk 4.100.000 jiwa, terdiri dari 13 kabupaten kota , 153 kecamatan dan 2000 lebih desa dan keluarahan. “Meski provinsi Kalsel tidak berada di jalur gempa tektonik, namun tiap tahun masih belum aman dar bencana Karhutla,” tambahnya.

Selanjutnya, angka IPM (indeks pembangunan manusia) Kalsel sedang naik, pengangguran menurun terus, bahkan di tahun 2018 tinggal 4,5%. Status desa juga membaik, dari desa tertinggal menjadi desa berkembang dan maju. “Gini Rasio 0,34 ini cukup baik,” tukasnya.

Sementara untuk bidang kesehatan, program-program dengan sinergi pusat, daerah dan kabupaten/kota yiatu pemberian sembako, Tagana Sosial, rehabilitas rumah, tanggap bencana, dan pembangunan inklusif untuk para difabel.

“Kita juga ada program bebas pasung dimana direncakan sebanyak 56 eksikotik (penyandang gangguan kejiwaan) terbebas dari ikatan/pasung. Lalu di tiap desa memiliki 1 bidan, 1 perawat, 1 ahli gizi, 1 SKM (sarjana kesehatan masyarakat). Program ini sudah kita launching dan hasilnya terlihat. Dimana AKI pada 2012 sebesar 359, tahun 2018 turun signifikan menjadi 116. AKB juga turun dari 44 menjadi 11. Angka prevalensi stunting dari 44,24% yang dulu tertinggi sekarang sudah turun menjadi 32,2%,” paparnya bersemangat.

Program unggulan lainnya adalah Germas dan Posyandu Banua yang langsung dipimpin Gubernur Kalsel. Dimana Gubernur langsung turun ke desa menggunakan sepeda motor trail agar bisa masuk ke pelosok yang sulit dijangkau.

Menurutnya, dari tiga tahun kepimpinannya sudah ada program Turdes (turun desa) sebanyak lima kali.”Jadi kami langusng menyerap dan mmebagikan sembako ke desa-desa terpencil.”

Sedangkan di bidang pendidikan, IPM bidang pendidikan Kalsel masih rendah rendah karena angka rata-rata lama sekolahnya masih dibawah 7,9 tahun .”ini yang akan kita kejar dengan serangkaian program beasiswa. Untuk beasiswa miskin ada BOSDA, kita juga ada perpusatakaan keliling, kemudian ada beasiswa untuk mahasiswa kedokteran,” tukasnya.

Turut hadir dalam FMB 9 kali ini antara lain Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial Kemenko PMK Tubagus Achmad Choesni, Sfat Ahli Menteri Bidang Aksesbilitas Sosial Kemensos Marjuki, dan Pengamat Kesehatan yang juga menjabat sebagai Ketua IDI Kalsel yaitu Muhammad Rudiansyah.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).*