Hilirisasi Produk Daerah Sumut, Sekdaprov: Peluang Masih Terbuka Lebar

TANGGAL :
Rabu, 20 Maret 2019

JAM NAIK BERITA :
17:02:13

MEDIA :
Wartaekonomi.co.id

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Hilirisasi Produk Daerah

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 30.000.000

AD :
Rp. 10.000.000

LINK ORIGINAL :

Medan - Hilirasisi produk daerah di Sumatra Utara sudah berkembang baik dan dipandang masih mempunyai peluang besar untuk ditingkatkan karena banyak ketersediaan produk.
Demikianlah disimpulkan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatra Utara, Sabrina, dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Hilirisasi Produk Daerah dan Perdagangan Antardaerah di Sumatra Utara" di Ruang Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Lt 2, Rabu (20/3/2019), pukul 08.30-12.00 WIB.

Optimistis atas peluang hilirisasi produk daerah itu, menurut Sabrina, muncul karena ada sejumlah faktor pendukung yang dimiliki Sumatra Utara. Di mana, sambung dia, ada dukungan ketersediaan bahan secara lokal yang diolah. Antara lain, bahan baku dari pertanian, perkebunan, perikanan, sumber daya alam, dan pariwisata. Kemudian, samnbung dia, masih banyak produk turunan dari produk unggulan daerah yang belum dikembangkan. Dan yang juga penting, kata dia, infrastruktur pendukung yang berkembang pesat.

Disebutkan Sabrina, Pemprov Sumut mengklasifikasikan produk unggulan berdasarkan empat wilayah. Yakni, kata dia, wilayah pantai timur, pantai barat, dataran tinggi, dan Kepulauan Nias.

"Di wilayah pantai timur, ada lima potensi utama. Pertama, industri pengolahan perikanan. Kedua, industri pengolahan pertanian dan perkebunan. Ketiga, industri pengolahan manufaktur. Keempat, pariwisata mangrove. Dan kelima, perdagangan dan jasa," ujar Sabrina, (20/3/2019).

Di kawasan tersebut, Sabrina membeberkan, saat ini ada lima infrastruktur pendukung, yakni Bandara Kuala Namu, KEK Sei Mangkei–Kl Kuala Tanjung, akses tol, jalur kereta api, dan pelabuhan.

Sementara itu di wilayah pantai barat, Sabina mengatakan, potensi utama adalah industri pengolahan perikanan, industri pengolahan perkebunan, energi dan kelistrikan, pariwisata bahari, serta perdagangan dan jasa. Dan dukungan infrastruktur di kawasan itu teridentifikasi adanya Pelabuhan Sibolga, Bandara FL Tobing dan Aek Gondang, PLTP Sarulla, akses konektivitas jalan, dan Pelabuhan Palimbungan Ketek.

Kemudian di wilayah dataran tinggi, Sabrina mengatakan, terdapat potensi utama di bidang pertanian dan holtikultura, perkebunan kopi, energi dan kelistrikan, pariwisata alam, serta perdagangan dan jasa . Dimana untuk mendukung itu, sambung dia, ada infrastruktur Bandara Silangit, Pelabuhan/Dermaga Kawasan Danau Toba, PLTP Sibayak, akses konektivitas jalan, dan akomodasi wisata.

Kawasan terakhir, Sabrina mengatakan, adalah Kepulauan Nias. Di sana, ada lima potensi utama yaitu pariwisata bahari, pariwisata budaya, sentra produk kelapa, pusat pengolahan perikanan, serta perdagangan dan jasa. Potensi tersebut, sambung dia, didukung oleh infrastruktur Bandara Binaka, Pelabuhan Gunung Sitoli dan Teluk Dalam, pelabuhan di pulau-pulau kecil, akses konektivitas jalan lingkar pulau, dan Bandara Pulau Tello.

Secara umum, produk unggulan Sumut adalah CPO, industri karet, kayu dan produk kayu, industri kakao dan coklat, industri kopi, industri hasil laut, industri barang alumunium, serta industri kecil menengah.

Ihwal perdagangan antar daerah, Sabrina mengatakan, pihaknya membagi menjadi dua jenis. Yakni, perdagangan antardaerah, yang berlangsung tanpa diatur tapi mengikuti mekanisme pasar.

“Hal ini sangat mungkin terjadi karena ada daerah surplus dan demand,” katanya.

Selain itu, Sabrina juga menjelaskan, adanya jenis perdagangan antardaerah yang bertolak dari kerja sama antardaerah.

“Dalam kaitannya perdagangan antardaerah ini, pemerintah sifatnya melakukan percepatan dengan model kerja sama antardaerah ini,” katanya.

Jadi bisa disimpulkan, menurut Sabrina, perdagangan antardaerah di Sumut telah berjalan, namun masih bisa ditingkatkan. Hal itu mengingat, Sumut memiliki kekayaan sumber daya alam/buatan yang masih bisa ditingkatkan produksinya.

“Jadi Sumut ini menjadi daerah surplus untuk berbagai komoditi,” tuturnya.

Oleh karena itu, Sabrina menegaskan, selain dukungan pusat berupa infrastruktur dan regulasi, pihak daerah menyambut adanya dukungan di bidang permodalan.

“Sebab kalaiu perbankan bunga kecil tapi dengan persyaratan serupa itu, maka tidak mampu masyarakat daerah. Padahal, keterampilan dan SDM masyarakat Sumut sudah baik,” pungkasnya

Acara dibuka Siti Meiningsih, Direktur Pengelolaan Media Ditjen IKP, sebelumnya Sekretaris Ditjen IKP. Turut hadir sebagai narasumber Diskusi Media FMB 9 kali ini, Deputi BIdang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Kelembagaan Kemenkop UKM Rully Indrawan, dan Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatra Utara Sabrina.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).