Hilirisasi Produk Berpeluang Ditingkatkan, Sekda Sabrina: Sumut Miliki Sumber Daya Alam Besar

TANGGAL :
Kamis, 21 Maret 2019

JAM NAIK BERITA :
00:00:00

MEDIA :
Tribunnews.com

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Iskandar Simorangkir , Deputi Bid. Koordinasi Ekonomi Makro Kemenko Perekonomian ,Sabrina, Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatra Utara,Rully Indrawan, Deputi Bid. Kelembagaan Kemenkop UKM

TONE :
Pro

TOPIC :
Hilirisasi Produk Daerah

CATEGORY :
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ,Kementerian Koperasi dan UKM

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 24.000.000

AD :
Rp. 8.000.000

LINK ORIGINAL :

Medan - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara, Sabrina mengatakan hilirisasi produk daerah di Sumatera Utara telah berkembang dengan baik. Serta masih memiliki peluang besar untuk ditingkatkan.
Hal tersebut disebabkan Sumut memiliki ketersediaan bahan baku untuk dilakukan penghiliran atau diproses menjadi bahan jadi.

“Sumatera Utara memiliki bahan atau sumber daya yang cukup besar potensinya, misalnya saja CPO Sumatera Utara yang memiliki banyak turunan produknya hingga 80 jenis tapi belum dikembangkan di sini,” kata Sekdaprov Sumut saat menjadi narasumber pada acara diskusi media Hilirisasi Produk Daerah dan Perdagangan Antar Daerah di Sumatera Utara yang digelar oleh Forum Merdeka Barat 9, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur, Kota Medan.

Menurut Sekdaprov Sumut, hilirisasi membuat pergerakan ekonomi Sumut cukup baik. Produk hilir mendatangkan nilai tambah bagi perekonomian Sumut. Saat ini, sektor terbesar penggerak perekonomian di Sumut yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan. “Pertumbuhan ekonomi Sumut selalu di atas rata-rata nasional, dampak daripada bergeraknya industri pengolahan yang ada di Sumatera Utara,” ujarnya.

Selain itu Sabrina juga menyebut neraca perdagangan Sumatera Utara saat ini juga surplus. “Kita masih lebih banyak ekspor ketimbang impor,” katanya.

Saat ini Sumatera Utara telah melakukan perdagangan antar daerah dengan mekanisme pasar yang berlaku. Sekdaprov Sumut mengatakan Sumatera Utara telah mengadakan perdagangan dengan Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Sementara untuk perdagangan antar daerah yang dilakukan dengan kerjasama, saat iniPemprov Sumut sedang menyusun MoUmengenai kerjasama perdagangan dengan Kepulauan Riau. Komoditas yang disasar berupa bahan pangan seperti sayuran dan lainnya.

Meski begitu, perlu dukungan faktor lain seperti infrastruktur untuk menunjang hilirisasi dan perdagangan antar daerah. Sekdaprov Sumutmemaparkan beberapa proyek infrastruktur yang sedang dalam proses pengerjaan atau rencana di Sumut. Di antaranya bendungan Lau Simeme, proyek Lake Toba mice and tourism, pelabuhan dan kawasan industri Kuala Tanjung, KEK Sei Mangkei, KIM Medan,LRT, jalan tol, pembangunanKualanamu Aeroropolis, rel kereta api Rantau Parapat-Dumai.

Selain itu Pemerintah Sumatera Utara juga telah meminta kabupaten/kota agar membuat produk unggulannya masing-masing. Dari 34 kabupaten/kota, saat ini sudah ada 17 kabupaten/kota yang telah menetapkan keputusan Bupati/Walikota tentang produk unggulan daerah.

Senada dengan Sekdaprov Sumut, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengatakan infrastruktur menjadifaktor terpenting agar hilirisasi dan perdagangan antar daerah berjalan dengan maksimal. “Konektivitas bisa mendorong hilirisasi produk dan perdagangan antar daerah. Untuk itu,perlu dibangun konektivitas darat, pelabuhan dan lainnya,” ujarnya.

Kata Iskandar, bersama Kementerian PUPR pihaknya sudah bersepakat menggunakan karet sebagai campuran untuk aspal. Di sejumlah ruas jalan campuran tersebut akan digunakan.

"Seperti di bantalan-bantalan jalan, di tempat semacam itu karet akan digunakan untuk pengaspalan. Dengan demikian petani yang dirugikan akibat turunnya harga karet akan tertolong," ujarnya.

Skenario kedua, ungkapnya, adalah dengan menjalin kesepakatan pengendalian produksi ke pasar dunia antara Indonesia, Thailand dan Malaysia. Ketiga negara tersebut merupakan produsen karet terbesar di dunia, yakni 90%.

"Sudah ada MoU atau kesepakatan, tinggal melaksanakan," tegas Iskandar. Skenario berikutnya adalah melakukan replanting atau penanaman kembali tanaman karet yang saat ini ada. Seperti pola replanting di perkebunan kelapa sawit, hal itu akan diterapkan di perkebunan karet. Termasuk soal pendanaannya. "Dengan replanting nantinya produktivitas tanaman karet akan meningkat dua hingga tiga kali," terang Iskandar.

Harga jual getah karet di tingkat petani di Sumut saat ini berkisar Rp 7.000-Rp 7.500/Kg. Petani berharap harga naik di atas Rp 10.000/Kg.

Sementara itu, Deputi Bidang Kelembagaan Kemenkop UKM, Rully Indrawan mengatakan hilirisasi sangat erat dengan kelembagaan. “Jadi yang kita butuhkan bagaimana penguatan kelembagaan ekonomi yang berbasis pada potensi daerah,” katanya.