Rilis 7 FMB 9: Brasil Membangun Ibukota Baru dari Nol

TANGGAL :
Rabu, 10 Juli 2019

JAM NAIK BERITA :
13:35:28

MEDIA :
-

JOURNALIST :

NARASUMBER :

TONE :
Pro

TOPIC :
Pemindahan Ibu Kota

CATEGORY :

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :

AD :

FILE ORIGINAL :


JAKARTA - Pemerintah Brasil mengungkapkan ketika membangun Brasilia, sebagai ibukota baru pengganti Rio Janeiro membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun untuk membangun infrastruktur dasar hingga memindahkan penduduk dari kota-kota di sekitarnya.
"Soal biaya yang terus membengkak dari apa yang kita rencanakan sebelumnya. Inflasi bisa jadi memicu kenaikan harga, tapi kota ini sudah menjadi kenyataan, amat sulit membangun wilayah demikian besar dengan cuma-cuma. Kamu tidak akan tahu apa yang menjadi keinginan kamu, namun biasanya berakhir dari lebih dari yang seharusnya," jelas Dubes Brasil untuk Indonesia, Rubem Barbosa.

Demikian disampaikan Rubem Barbosa dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk "Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman negara Sahabat", bertempat di Ruang Rapat Benny S Mulyana, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Jakarta, Rabu (10/07/2019).

Ia menceritakan, tantangan yang dihadapi pemerintah Brasil dalam lima tahun pertama pembangunan ibukota baru di Brasilia adalah akibat harus membangun dari nol dan tidak ada penghuninya. Pembangunan ibukota Brasilia dibangun dari tahun 1956 hingga tahun 1961 di era pemerintahan presiden Juscelino Kubitschek.

Rubem Barbosa menambahkan untuk itu mereka harus memindahkan penduduk serta tidak ada infrastruktur di sana. Penduduk awal di sana adalah para pegawai pemerintahan dan pekerja yang turut membangun kota Brasilia.

Namun demikian pembangunan akomodasi bagi penduduk di Brasilia merupakan peluang ekonomi yang amat besar pada saat itu. Menurut Rubem, membangun kota baru tetap merupakan peluang bagi banyak orang untuk mencari solusi kehidupan yang lebih baik.

Dubes Barbosa menjelaskan bahwa ide utama membangun Brasilia sebagai ibu kota negara baru adalah tidak hanya karena Rio de Janiero berkembang terlalu cepat sehingga tidak bisa mengakomodasi pemerintahan lagi, seperti Jakarta, tapi juga keharusan bagi pemerintah untuk pemerataan populasi dalam kaitannya dengan memaksimalkan wilayah yang dimiliki negara.

"Berbeda dengan Indonesia, waktu itu kami harus membangun Brasilia dari awal, sekitar 1.200 km dari Rio di mana tidak ada apa-apa di sana pada waktu itu, tidak ada jalan, tidak ada rel kereta, benar-benar operasi besar-besaran yang membutuhkan waktu sekitar 3,5 tahun. Awalnya untuk mengakomodasi 1 juta penduduk, tapi sekarang sudah 3,3 juta penduduk," terangnya.

Saat ini, Brasilia menjadi kota terbesar keempat di Brasil setelah Rio de Janeiro, Sao Paolo dan Salvador serta memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Brasil.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Menteri PPB/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, dan Duta Besar LBBP RI untuk Brasil (2010-2015) Sudaryomo Hartosudarmo.

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di www.fmb9.id, FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube).