Konsep "Forest City” Jadi Acuan

TANGGAL :
Kamis, 11 Juli 2019

JAM NAIK BERITA :
07:18:58

MEDIA :
Kompas

JOURNALIST :
Redaksi

NARASUMBER :
Bambang Brodjonegoro, Menteri PPN/Bappenas,Rubem Barbosa, Duta Besar Brasil untuk Indonesia

TONE :
Pro

TOPIC :
Pemindahan Ibu Kota

CATEGORY :
Kementerian PPN/Bappenas

RUBRIC/PAGES :
Berita

PR :
Rp. 446.985.000

AD :
Rp. 148.995.000

FILE ORIGINAL :


Jakarta — Ibu kota baru yang akan dibangun di Pulau Kalimantan akan memakai konsep forest city. Luas hutan lindung di Kalimantan tak akan berkurang.
Hal itu diutarakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro dalam Diskusi FMB9 bertajuk "Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat” di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Narasumber lain yakni Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Brasil 2010-2014, Sudaryomo Hartosudarmo.

"Pembangunan ibu kota baru tidak akan mengurangi luas hutan lindung. Hutan dijaga. Kami menyadari banyak yang tadinya hutan jadi kelapa sawit. Di Bukit Soeharto yang tak hutan lagi harus direvitalisasi hutannya. Itu mengarah forest city," kata Bambang.

Pemindahan ibu kota bertujuan mengurangi ketimpangan ekonomi dan beban Jawa yang terlalu berat. Sekitar 58 persen warga Indonesia tinggal di Jawa, sementara rata-rata pulau lain dihuni kurang dari 10 persen populasi Indonesia, kecuali Sumatera. Jawa berkontribusi 5849 persen PDB dan area sekitar Jakarta berkontribusi 20,85 persen dari PDB.

Ketimpangan ekonomi

Soal ketimpangan ekonomi juga jadi alasan Brasil memindahkan ibu kota dari Rio de Janeiro ke Brasilia. Beda dengan Indonesia yang berbentuk kepulauan, Brasil negara daratan. Tingginya ketimpangan ekonomi antara Rio de Janeiro, ibu kota lama, dan pedalaman Amazon mendorong pemindahan ibu kota. Brasilia jadi kota terbesar ketiga Brasil.

Dirancang untuk dihuni 1 juta orang, kini penduduk Brasilia 3,3 juta orang, “Brasilia berkembang. Di sekitar Brasilia ada 20 kota satelit kecil yang tumbuh industri, perdagangan, dan pariwisatanya,” kata Sudaryomo.

”Kami membangun dari nol. Tak ada apa-apa di daerah itu, bahkan tak ada infrastruktur. Kami harus membangun jalan, rel kereta api,” ujar Barbosa. Jarak Brasilia dari Rio de Janeiro 1200 kilometer. Ketimpangan pedalaman Amazon dan Rio de Janeiro berkurang.

Berbeda dengan calon ibu kota baru Indonesia di area banyak hutan, Brasilia didirikan di daerah kering, ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.

Bambang menegaskan, ibu kota baru diutamakan sebagai pusat pemerintahan dan harus berpusat Indonesia. "Kita ingin ibu kota baru Indonesia didesain, dipikirkan, dan dipilih bangsa sendiri. Jakarta didesain dan dibangun pemerintah kolonial, VOC dan Hindia Belanda. Harus menjadi kota ideal yang livable (nyaman dihuni), kita ingin perkembangan kota terkendali,” ujarnya.

Ibu kota baru dirancang untuk dihuni 1,5 juta jiwa. Dari biaya Rp 466 triliun untuk pemindahan ibu kota, biaya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditekan seminimal mungkin.

Acara diskusi bertajuk "Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat” berlangsung di kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta, Rabu (10/7/2019). Berbicara dalam diskusi itu (dari kiri ke kanan) Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro, serta Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Brasil 2010-2014, Sudaryomo Hartosudarmo.