Title : Menko Luhut Yakin Defisit Transaksi Berjalan Lebih Rendah di 2019, Ini Penyebabnya Logo
Date : 2018-12-19 14:16:37
Media : Merdeka.com
Jurnalis : Redaksi
Narasumber : Bambang Brodjonegoro, Menteri PPN/BappenasLuhut Binsar Panjaitan, Menko Kemaritiman
Nilai : Pro
Topik : Dampak Ekonomi AM IMF 2018
Kategori : Kementerian PPN/Bappenas
Rubrik : Berita
Menko Luhut Yakin Defisit Transaksi Berjalan Lebih Rendah di 2019, Ini Penyebabnya

Menko Luhut Yakin Defisit Transaksi Berjalan Lebih Rendah di 2019, Ini Penyebabnya
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan optimis defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) tahun 2019 akan lebih kecil dibandingkan tahun ini.

"Jadi kalau tahun ini kita defisit transaksi berjalan kurang 3 persen dari PDB, saya kira akan lebih bagus (pada tahun 2019)," kata dia, saat ditemui, di Kantor Bappenas, Jakarta, Selasa (18/12).

Hal tersebut, kata Luhut disebabkan penghematan yang terjadi di berbagai sektor akibat rangkaian kebijakan, seperti implementasi penggunaan B20, TKDN, juga upaya pemerintah dalam menggenjot sektor pariwisata.

"Saya yakin dengan pariwisata kita tahun depan kira USD 7 miliar. Kemudian dari B20 mungkin kira-kira USD 6 sampai USD 7 miliar, TKDN kemungkinan kita bisa hemat USD 2 miliar, dan penghematan lain-lain saya kira bisa dekat USD 18 miliar," tandas Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini.

Meskipun demikian, Mantan Kepala Staf Kepresidenan ini tidak membeberkan secara rinci target besaran CAD yang bakal dicapai tahun depan.

"Saya sih angka mungkin pak Bambang (Menteri PPN, Bambang Brodjonegoro) lebih cermat. Angka pasti akan berkurang. Menurut saya pasti akan kurang," lanjut Luhut.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, mengakui upaya penyelesaian persoalan defisit transaksi berjalan merupakan sebuah program jangka panjang dan membutuhkan kerja sama semua pihak.

"Kita ingin kebijakan itu kita buat secara permanen dan berkesinambungan karena upaya untuk mengurangi CAD tidak bisa cukup untuk satu masa kepemerintahan, ini harus upaya yang berkesinambungan," kata Bambang.

Dia memastikan upaya menekan CAD tersebut bakal dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. "Jadi dalam RPJMN akan kita buat apa yang akan menjadi prioritas di 5 tahun ke depan terutama yang memang pengalihan ekspor dari yang basisnya SDA (sumber daya alam) ke yang olahan sehingga itu bisa memperbaiki CAD kita ke depan," jelas dia.

"Kemudian kita juga akan susun langkah jangka panjang sehingga CAD itu tidak lagi permanen di Indonesia. Harapan kita suatu saat kita bisa current account surplus," imbuhnya.

Menurut dia, selain mendorong produk ekspor dari sektor pengolahan, poin penting yang juga menjadi prioritas dalam RPJMN 2020-2024 adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM).

"Yang menjadi prioritas yg menjadi pembangunan akan fokus pada pembangunan SDM dan transformasi ekonomi dari perekonomian yang berbasis SDA menjadi perekonomian yang berbasis nilai tambah dan teknologi," ungkap Bambang.

Pihaknya pun menargetkan penyusunan RPJMN 2020-2024 sudah akan selesai bulan Januari tahun depan. "RPJMN teknokratis akan kita selesaikan awal Januari, tapi RPJMN final ya menunggu pemerintahan baru," tandasnya.
Forum Merdeka Barat 9
Kementerian Komunikasi Komunikasi dan Infromasi
Jalan Medan Merdeka Barat No. 9, Jakarta Pusat 10110